Apa itu Misogini? Definisi & Contohnya

Misogini atau sering dikatakan misoginis merupakan salah satu bentuk ekstrim dari ideologi seksis. Secara spesifik mengekspresikan kebencian yang dahsyat kepada perempuan baik secara individual atau pun institusional.

Belakangan ini istilah misogini sering muncul di berbagai media. Definisi misoginis yang dimaksud merujuk pada suatu sentimen kebencian terhadap perempuan.

Ekspresinya bisa berbagai macam, dari persepsi bahwa perempuan adalah ‘warga kelas dua’, guyonan, sampai kasus kekerasan terhadap perempuan, pemerkosaan dan komodifikasi tubuh perempuan.

Artikel ini akan mengulas tentang apa itu misogini. Saya akan mengulas dengan memberikan contohnya supaya pembaca dapat mudah memahami praktik misogini yang benar-benar terjadi di sekitar kita.

Baca juga: Pengertian Ideologi

Pengertian misogini

Misogini adalah kebencian terhadap perempuan. Itu definisi versi sederhananya. Perempuan sebagai objek kebencian diekspresikan dengan berbagai cara dan level kebenciannya juga berlapis.

Ada ekspresi dalam bentuk candaan, ada ekspresi dalam bentuk kekerasan bahkan sampai pada kriminalitas.

Beberapa pendapat mengungkap istilah misogini (misogyny) populer dalam ilmu sosial dan politik seiring dengan popularitas gerakan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender) di Barat. Namun misoginis menekankan pada aspek kebencian terhadap perempuan.

Meletakkan perempuan sebagai objek kekerasan telah lama dipraktikkan oleh sistem patriarki. Patriarki merupakan ideologi yang berbasis pada dominasi maskulin, yaitu dominasi laki-laki terhadap perempuan.

Kemiripan bentuk kekerasan antara patriarki dan misogini membuat keduanya berkaitan. Jika patriarki menekankan pada kuasa laki-laki, maka misogini pada ketidakberdayaan perempuan.

Contoh misogini bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Hanya saja, kita sering kali tidak sadar bahwa itu misoginis.

Misalnya, pernahkah kamu mendengar candaan “milih madu apa racun? Mau dimadu atau diracun?” Candaan yang meletakkan perempuan sebagai objek tak berdaya, seolah-olah jika tidak ingin mati karena racun harus rela diduakan. Guyonan ini secara tersembunyi menormalisasi perselingkuhan kaum laki-laki.

Atau guyonan lain seperti “virus corona is like your wife”. Dimana virus corona dipersonifikasi sebagai perempuan yang maksudnya adalah, kita pertama-tama yakin bisa mengontrolnya, setelah menikahinya, kita tidak mampu mengontrolnya, akhirnya kita memilih hidup berdamai dengannya.

Candaan misoginis seperti itu disambut tertawa oleh banyak orang yang belum melek dengan seksisme dan misoginis.

Entah kenapa secara kebetulan candaan seperti itu banyak dilontarkan oleh generasi baby boomers. Ini dugaan saya saja berdasarkan apa yang disampaikan oleh media. Mungkin generasi baby boomers tumbuh bersama ideologi patriarki yang sangat kental.

Berbeda dengan generasi yang lebih kekinian dimana gerakan gender dan feminisme berkembang pesat sehingga mereka lebih melek terhadap isu yang sensitif gender, perempuan, dan seksualitas.

Candaan itu bagi mereka yang melontarkan dan bercanda bisa saja dianggap normal. Tetapi bagi mereka yang sudah paham ideologi yang berkaitan dengan seksualitas, itu adalah suatu bentuk kekerasan verbal terhadap perempuan. Itu adalah praktik misogini.

Baca juga: Gender sebagai Konstruksi Sosial

Contoh lain yang bisa saya paparkan di sini yaitu apa yang juga banyak terjadi, misalnya kekerasan domestik, pemerkosaan, dan pelecehan seksual.

Ketiganya menyasar perempuan sebagai korban. Misogini beranjak dari realitas historis bahwa perempuan adalah kaum marginal, inferior yang berada di bawah dominasi laki-laki yang posisi itu dilanggengkan lewat ideologi patriarki.

Tetapi misogini tidak memposisikan laki-laki dan perempuan sebagai dua pihak yang berhadapan, melainkan memposisikan perempuan sebagai pihak yang disudutkan, dilecehkan, dibjektifikasi, dieksploitasi dan ditindas.

Sehingga misogini juga akan melanggengkan posisi marjinal perempuan.

Ketika kamu mendengar perempuan korban pelecahan seksual melaporkan kasusnya ke kepolisian, ternyata malah disalahkan karena caranya berpakaian, itulah misogini.

Tidak hanya misogini oleh anggota polisi secara personal, tetapi kepolisian secara institusional. Dominasi patriarki yang berabad-abad membuat perilaku menyalahkan korban atas pelecehan yang dialaminya menjadi membudaya.

Jika kita lihat pejabat publik, tokoh masyarakat, penegak hukum, dan orang-orang yang punya kekuasaan masih mempraktikkan misogini, sadar atau pun tidak, maka kita harus bergerak segera untuk melawannya, kalau tidak mau menunggu waktu lebih lama.