Metode Sampling: Jenis dan Contohnya

Metode sampling dalam penelitian perlu dipahami peneliti karena hampir mustahil kita melakukan riset dengan melibatkan semua orang dalam populasi. Metode sampling dilakukan untuk memperoleh representasi populasi.

Dalam riset sosial, ketepatan proses sampling menentukan tingkat bias yang bisa dihasilkan. Artikel ini membahas cara melakukan teknik sampling. Dalam menerapkan sampling, peneliti perlu memahami jenis-jenisnya. Artikel ini memaparkan jenis atau tipenya disertai contoh-contohnya.

Metode Penelitian: Jenis dan Contohnya

Secara umum, metode atau teknik sampling dalam penelitian sosial ada dua, yaitu sampling yang didasarkan pada probabilitas (probability sampling) dan sampling yang non probabilitas (non-probability sampling). Keduanya memiliki jenisnya masing-masing. Salah memilih metode sampling bisa menghasilkan tingkat bias yang tinggi. Tentu saja juga menghasilkan problem validitas.

Non-probability sampling

Karakteristik utama teknik sampling ini yaitu sampel diambil tanpa memberikan kesempatan yang sama pada individu dalam populasi untuk terpilih menjadi sampel. Jenis ini sangat relevan digunakan untuk riset tahap awal. Misalnya untuk membaca kecenderungan umum fenomena sosial yang dilakukan sebelum melakukan penelitian secara lebih mendalam dan spesifik. Beberapa teknik sampling jenis ini yaitu:

Berbasis pada ketersediaan subjek

Contohnya, riset terhadap pengunjung mall, misalnya. Peneliti mengumpulkan informasi dari informan yang sedang ngemall. Penelitian dilakukan pada saat itu juga. Karena tidak mungkin men-survey atau mewawancarai semua pengunjung mall, maka peneliti memilih secara acak informan yang kebetulan sedang lewat dan bersedia berpartisipasi.

Purposive sampling atau sampling bertujuan

Teknik ini sangat membantu jika peneliti memiliki pengetahuan yang memadai mengenai karakteristik populasi yang diteliti. Misalnya, peneliti ingin mengetahui pengalaman pertama jalan-jalan ke luar negeri bagi perempuan yang melakukan solo traveling. Peneliti bergabung pada kelompok traveler perempuan. Maka sampling dilakukan dengan cara hanya memilih mereka yang berada di kelompok tersebut.

Snowball sampling atau sampling bola salju

Teknik ini sangat relevan jika peneliti tidak mengetahui jejaring informan yang akan diteliti. Namun informan pertama yang dikontak merupakan aktor penting dalam isu yang dibahas sehingga peneliti meminta rekomentasi informan berikutnya dari informan sebelumnya. Contohnya, riset tentang pengemis jalanan di area urban. Informan pertama yang dipilih memiliki kenalan yang potensial menjadi informan selanjutnya. Dari sini peneliti bisa mengumpulkan data yang makin lama makin banyak, seperti bola salju yang bergulir dari atas gunung sampai ke bawah, dimana makin lama makin besar.

Quota sampling

Teknik ini berbasis pada hitungan proporsional informan yang diseleksi dari unit yang dipilih. Sebagai contoh, peneliti melakukan riset dalam konteks populasi di suatu negara. Dari unit negara, peneliti membandingkan opini dalam perspektif gender. Maka jumlah laki-laki dan perempuan yang diambil sebagai sample ditetapkan secara proporsional. Dengan demikian, sample yang diambil merepresentasikan proporsi gender di suatu negara.

Desain Penelitian: Jenis dan Contohnya

Probability sampling

Jeis sampling ini diambil dengan cara memberi setiap individu dalam populasi peluang yang sama untuk terpilih menjadi sample. Banyak pendapat yang beredar bahwa jenis metode sampling ini mampu mengurangi bias secara signifikan. Namun demikian, tingkat bias tergantung pada relevansi teknik sampling yang dipilih dalam jenis ini.

Simple random sampling

Teknik ini diterapkan dengan cara mengidentifikasi populasi yang akan diteliti dengan memberi label. Biasanya label berupa nomor. Misal, jika peneliti ingin mempelajari suatu populasi yang jumlahnya 2000. Namun sample yang akan diambil hanya 100. Maka seluruh populasi diberi nomor dari 1 sampai 2000, kemudian dilakukan pengambilan nomor secara acak sebanyak 100. Mereka yang terpilih secara randomlah yang menjadi informan. Teknik ini sangat relevan digunakan untuk riset pada populasi yang homogen secara demografis.

Cluster sampling atau sampel klaster

Teknik ini dilakukan dengan cara membuat klastering untuk menentukan sample. Misal, studi tentang pandangan tokoh masyarakat lintas iman mengenai makna toleransi di Yogyakarta. Peneliti membuat klaster berdasarkan agamanya. Selanjutnya, peneliti mendaftar tokor-tokoh di tiap agama yang pernah menerbitkan buku populer tentang keagamaan. Daftar tokoh yang teridentifikasi menjadi informan yang dipilih.

Syatematic sampling atau sampling sistematis

Teknik ini mirip random sampling. Perbedaannya pada proses pemilihan informan. Jika informan random sampling ditentukan secara acak, systematic sampling ditentukan dengan cara sistematis. Misalnya, peneliti memiliki daftar pupulasi 2000 orang. Jika hanya 100 orang yang akan dipilih sebagai informan, maka peneliti mentukan sendiri bahwa misalnya, mereka yang berada di urutan nomor 10, 20, 30, dan seterusnya yang dipilih.

Stratified sampling atau sampling terstratifikasi

Dari istilah yang digunakan sudah jelas, yaitu strata. Di sini peneliti membuat grup atau klaster dari populasi berdasarkan strata. Misalnya, subjek penelitian yang dilakukan adalah mahasiswa di suatu universitas swasta. Peneliti membuat strata berdasarkan lamanya kuliah. Maka peneliti memiliki daftar berapa banyak informan yang berada di tahun pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya. Informan di setiap strata diambil secara proporsional sehingga merepresentasikan mahasiswa sebagai populasi yang diteliti.