Meningkatkan Imunitas UMKM di Masa Pandemi

Nggak cuma daya tahan tubuh kita yang perlu ditingkatkan di saat pandemi, UMKM juga. Virus dan resesi memberi pelajaran penting tentang perlunya kita membangun sistem ekonomi yang menguatkan daya lenting UMKM ke depan dalam menghadapi krisis.

Jalan menuju peningkatan imun UMKM lebih banyak terhalang oleh kemauan ketimbang kesempatan. Artikel ini akan mengulas solusi potensial yang tidak hanya bertujuan untuk membangkitkan UMKM di masa pandemi dan resesi, tetapi juga menciptakan UMKM ke depan yang tangguh dari krisis.

Mengapa UMKM harus tangguh?

Saat pertumbuhan ekonomi kita anjlok, kebangkitan UMKM paling diharapkan. Wajar saja, kita pernah bangkit dari krisis ekonomi 1998 dan melewati ancaman krisis global 2008 dimana salah satu aktor penting yang tercatat sejarah adalah peran UMKM yang berhasil menjamin berdetaknya denyut nadi sektor riil.

Sudah bukan rahasia lagi kalo sistem ekonomi yang kita anut menghasilkan ketergantungan pada pasar global. Sehingga ketika pasar global goyah, ekonomi kita rentan. Akhirnya, UMKM juga ikut rentan. Krisis ekonomi akibat pandemi membuktikannya.

Sistem ekonomi yang kita anut juga memperlebar jurang kesenjangan. Akses terhadap sumber daya finansial berada di genggaman mereka yang relatif mampu. Sedangkan mereka yang rentan, tidak tau mau cari bantuan kemana.

Tapi sebenarnya, era internet membuka peluang untuk menciptakan ekonomi yang lebih inklusif. Inklusif artinya, peluang akses sumber daya finansial terdistribusi secara adil dan merata, termasuk bagi individu atau kelompok yang marjinal seperti orang miskin, kaum difabel dan perempuan.

UMKM di masa krisis

Ketika krisis melanda seperti sekarang ini, UMKM banyak yang tumbang. Hanya segelintir saja yang masih bertahan. Itupun yang punya modal atau akses terhadap modal. Padahal sektor UMKM menyerap 97% total tenaga kerja kita. Mayoritas pekerja UMKM adalah kelompok rentan, meliputi masyarakat kelas menengah-bawah, kaum perempuan dan difabel yang sering kali kesulitan mengakses modal.

Urgensi bantuan untuk UMKM banyak disuarakan. Pemerintah telah menggelontorkan dana bantuan untuk membangkitkan kembali gairah UMKM.

Tapi, bagaimana jika yang dibutuhkan UMKM sekarang ini lebih dari sekadar suntikan? Bantuan tunai, insentif, stimulus dan subsidi tentu saja berguna. Tapi, kita tidak tau apakah sisa kas negara cukup untuk meng-cover semuanya sampai pandemi berakhir.

Kapan pandemi berakhir? Itu yang jadi soal. Belum lagi, kalaupun berakhir kita tidak tau krisis apa lagi yang akan mengancam di tengah ketidakpastian global. Oleh karena itu, perlu komitmen bersama untuk mengembangkan UMKM ke depan yang imun terhadap krisis.

Bagaimana membangun UMKM yang tangguh?

Solusi praktis yang ditawarkan di sini adalah mewujudkan skema pinjaman untuk UMKM yang inklusif. Skema ini ditopang oleh konsep ideal sosio-ekonomi yang disebut inklusi keuangan.

Inklusi keuangan sebenarnya bukan gagasan baru. Pengenalan skema ini telah dimulai sejak akhir 1990 dan populer pada awal dekade 2000-an ketika terjadi ledakan web 2.0. Sejak saat itu, aplikasi yang didesain untuk memfasilitasi Peer to Peer Lending (P2P Lending) bermunculan.

Meskipun sudah muncul sejak lama, perlu waktu untuk dikenal masyarakat secara lebih luas. Di tengah krisis yang melanda UMKM, inklusi finansial menjadi solusi yang potensial. Kita tau kas negara terbatas sedangkan UMKM butuh udara untuk bernafas. Skema inklusi finansial membuka jalan baru, tidak hanya untuk menyelamatkan UMKM, tetapi membangun sistem ekonomi negara yang berdaya lenting dan berkelanjutan lewat ketangguhan UMKM.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk mewujudkan inklusi keuangan? Ada dua langkah praktis yang bisa dilakukan. Pertama, mengubah paradigma. Kedua, partisipasi aktif.

  • Mengubah paradigma

Kita harus mengubah paradigma lama yang mengatakan bahwa sumber keuangan ada pada institusi atau lembaga seperti negara atau bank. Paradigma inklusi finansial melihat sumber keuangan terdistribusi secara merata —dan memang harus terdistribusi merata—, terutama untuk mereka yang rentan.

Ilustrasi sederhananya, siapapun kamu bisa dipercaya untuk mengakses sumber finansial sesuai kebutuhan usahamu. Sebaliknya juga, kalo kamu tidak butuh uang malah punya kelebihan uang, kamu bisa menginvestasikan uangmu di P2P Lending Indonesia yang terpercaya untuk digunakan sebagai modal mereka yang usahanya butuh dana.

  • Partisipasi aktif

Setelah melihat dengan paradigma baru, kita berpartisipasi aktif baik sebagai pemberi ataupun penerima manfaat. Dalam hal ini, platform P2P Lending menjadi perantaranya. Sebagai perantara artinya menghubungkan peminjam dengan pemberi pinjaman. Prinsipnya, ada pertemuan antara permintaan dan penawaran lewat platform digital.

Platform P2P Lending adalah platform digital yang menghubungkan antara pemberi dan penerima pinjaman, investor dan pelaku usaha, penawaran dan permintaan. Keberadaan P2P Lending mendisrupsi sistem pinjaman finansial yang telah mapan sebelumnya sehingga perlu waktu untuk dikenalkan ke masyarakat luas. Tapi langkah itu harus dimulai sekarang.

Dengan harapan UMKM Indonesia bangkit, dan kedepan tercipta sistem ekonomi baru yang berdaya lenting dan berkelanjutan, maka model keuangan yang inklusif perlu diwujudkan. P2P Lending membuka peluang pendanaan UMKM agar cepat pulih kembali akibat pandemi dan resesi.