Jakarta: Sebuah Eksemplar Sosiologis

Cuti libur lebaran menjelang usai. Beberapa rekan saya di kampung halaman sudah menyiapkan tiket untuk kembali ke Jakarta. Sebagian dari mereka berencana mengajak sanak saudaranya untuk bekerja di Jakarta. Daya tarik ekonomi membuat sanak saudaranya tak kuasa menolaknya. Akhirnya mereka memutuskan akan ikut merantau mencari nafkah di Ibukota. Seperti yang diberitakan oleh media-media di Indonesia, migrasi ke Jakarta menjadi fenomena langganan pascalebaran. Di kampung saya, hal ini sudah biasa. Baru saja saya mendengarkan ulasan Sosiolog UI, Nadia Yovana di Televisi seputar fenomena yang populer disebut urbanisasi ini. Menurutnya, daya tarik utama orang ke Jakarta adalah faktor ekonomi.

Baca juga Motif Ekonomi: Pengertian, Macam, Tujuan, Contoh



Saya pernah menghabiskan masa kecil saya di Jakarta. Beberapa kali bahkan sampai sekarang saya pun masih sering ke Jakarta baik untuk bekerja atau pun sekadar mengunjungi saudara. Ulasan Nadia seputar daya tarik ekonomi memang benar. Namun ada satu hal lagi yang tak kalah penting dan perlu ditambahkan, yakni daya tarik simbolik berupa prestige dan status sosial. Bekerja di Jakarta tak hanya menjanjikan peluang ekonomi yang lebih besar, namun juga harapan memperoleh status sosial yang baru. Uniknya, status sosial ini tidak selalu berbanding lurus dengan status ekonomi. Di Jakarta, bekerja dengan hasil yang tidak sesuai harapan sudah menjadi suatu hal yang lumrah bagi sebagian orang.

bekerja di jakarta

Dari obrolan singkat dengan teman-teman saya yang pernah bekerja di Jakarta, saya menangkap satu fakta menarik. Ketika bekerja di Jakarta, seringkali mereka merasakan pengalaman personal yang tidak bisa dirasakan di kota-kota lain. Misalnya, ketika seseorang bertanya via sms “sekarang bekerja dimana?”, dengan menjawab “di Jakarta”, sebuah kesan simbolik yang penuh ‘prestige’ seolah menyelimuti dirinya. Pengalaman sosio-psikologis ini hanya dapat dirasakan secara personal. Intinya, ada kebanggaan tersendiri yang dirasakan ketika mendapati orang lain tahu bahwa dirinya sedang bekerja di Jakarta. Nilai-nilai simbolik tak kasat mata inilah yang sebenarnya menjadi daya tarik Jakarta. Ekonomi boleh tak sesuai harapan, namun kesan prestige masih dapat dirasakan.

Baca juga Status Sosial: Pengertian dan Contohnya



Jakarta memang masih menjadi pusat perekonomian dan pemerintahan. Peredaran uang yang luar biasa banyak menarik perhatian orang-orang yang tinggal di luar Jakarta. Meskipun, Jakarta dinilai oleh sebagian orang sebagai kota yang keras, kejam dan ‘tidak manusiawi’. Bagi rekan-rekan di kampung saya, itu artinya, jika seseorang berani beradu nasib ke Jakarta dan berhasil, maka akan disambut ucapan “wah, udah sukses!”, ia mendapat label orang sukses. Dampaknya, ia akan memperoleh penghargaan simbolik berupa dikagumi dan dihormati. Jakarta, bagaimanapun telah dikonstruksikan secara sosial sebagai ‘kota yang menjanjikan’. Sebuah eksemplar sosiologis yang ‘dibaca’ oleh rekan-rekan saya di kampung halaman.

Meskipun pada kenyataannya, ‘janji’ kesuksesan itu tidak selalu terpenuhi, kesan personal yang dirasakan akan terus hidup dalam pengalaman personal. Pada akhir ulasannya di Televisi, Nadia cukup pesimis arus urbanisasi ke Jakarta dapat dibendung selama pemerataan pembangunan ke daerah belum berhasil dilakukan pemerintah. Bagi saya, sebenarnya ada faktor lain selain apa yang menjadi ‘PR’ pemerintah itu, yaitu mengurangi produksi dan reproduksi nilai-nilai simbolik Ibu Kota. Media sangat berperan disini.

Baca juga: Sosiologi dan Ekonomi



Sejauh ini, media terutama televisi juga berkontribusi besar atas besarnya arus migrasi ke Jakarta apalagi jika dikaitkan dengan periode pascalebaran. Ketika melihat berita di televisi, hampir selalu apapun yang disorot adalah tentang Jakarta. Acara-acara talkshow seputar trend, gaya hidup dan fenomena kontemporer lainnya selalu mengacu pada konteks Jakarta. Seolah hanya Jakarta-lah tempat dimana orang bisa menampilkan eksistensi dirinya. Sampai disini, media menurut saya telah berhasil ‘menulis’ ribuan eksemplar tentang Jakarta yang dibaca oleh orang-orang di luar sana, termasuk rekan-rekan saya sendiri. Selama Jakarta saja yang ditulis, selama itulah Jakarta akan diserbu orang. Jakarta adalah sebuah eksemplar.