Tipe-Tipe Budaya Politik

Tipe-tipe budaya politik yang sering diajarkan terdiri dari; budaya politik parokial, budaya politik subjek dan budaya politik partisipan. Ketiganya dibedakan berdasarkan karakteristik masyarakatnya serta level kepeduliannya pada jalannya politik-pemerintahan.

Baca juga: Pengertian Budaya



Perbedaan tipe-tipe budaya politik yang diklasifikasikan menjadi tiga jenis di atas merupakan perbedaan dalam bentuk yang paling umum. Kita akan membahas ketiganya secara padat dan ringkas. Tetapi terlebih dahulu kita harus pahami apa itu budaya politik.

Budaya politik merupakan sikap dan orientasi warga suatu negara terhadap pelaksanan pemerintahan negara dan sistem perpolitikannya. Termasuk bisa juga drama politik yang terjadi di dalamnya.

Dengan pengertian tersebut kita bisa pahami bahwa budaya politik merupakan sikap warga negara, bukan tindakan aktual yang dilakukannya. Dengan istilah lain, kita bisa gunakan kepedualian atau kesadaran warga untuk konsen pada isu-isu politik. Adapun tindakan politik seperti voting saat pemilu, misalnya, tidak bisa kita pahami sebagai budaya politik meskipun saling berkaitan erat.

Baca juga Budaya Politik: Pengertian dan Contohnya


Tipe-tipe budaya politik

Berikutnya kita langsung menuju pada penjelasan tentang tipe-tipe budaya politik.

◊ Budaya politik parokial

Tipe budaya politik parokial menunjukkan sikap dan orientasi warga terhadap isu politik dan keseluruhan objek perpolitikan yang rendah. Biasanya budaya politik ini muncul pada masyarakat dengan wilayah yang kecil dan tradisional. Rendahnya orientasi politik warga ditandai dengan sikap warga yang cenderung tidak minat untuk membicarakan soal politik.

Dalam budaya politik parokial, masyarakat warga cenderung nrimo keadaan atau nasibnya. Kultur ini biasanya diekspresikan dalam kehidupan masyarakat yang tradisional dimana nilai-nilai budaya-transendental masih kuat. Kondisi hidup, menurut kultur ini tidak lepas dari garis takdir yang sudah ditetapkan.

Adapun ciri-ciri tipe budaya politik parokial:

  • Warga tidak berharap banyak pada politisi dan sistem politik dimana mereka tinggal.
  • Warga cenderung tidak minat pada objek-objek politik kecuali yang secara langsung bersentuhan dengannya.
  • Warga cenderung tidak memiliki kesadaran akan adanya kewenangan yang berpusat dalam pucuk pimpinan birokrasi.
  • Warga tidak menunjukkan peran politik yang khusus, melainkan dilakukan bersamaan dengan peran ekonomi, keagamaan, sosial, dan sebagainya.
  • Warga cenderung mempraktikkan hubungan sosial yang tradisional.

Baca juga Hubungan Sosial: Deifnisi dan Contohnya


◊ Budaya politik subjek

Tipe budaya politik subjek memiliki karakteristik yang cukup unik. Warga dengan tipe budaya politik ini cenderung patuh pada pejabat pemerintahan atau politisi namun tidak secara aktif terlibat mengawasi, mengontrol, dan mengawal kekuasaan. Dengan katan lain, warga tidak berpartisipasi aktif dalam proses politik namun mengafirmasi adanya otoritas pemimpin politik.

Bersikap pasif merupakan karakteristik utama masyarakat dengan tipe budaya ini. Mayarakat komunal yang baru dikenalkan dengan sistem politik modern, seperti voting dalam memilih pemimpin, misalnya, biasanya mengekspresikan tipe budaya ini.

Adapun ciri-ciri tipe budaya politik subjek:

  • Warga memiliki kesadaran akan adanya pemimpin politik dan otoritas pemerintahan dimana mereka tinggal namun bersikap pasif.
  • Warga cenderung golput dalam pemilu namun tetap tunduk pada keputusan pemimpin terpilih.
  • Warga menerima putusan politik tanpa kritik dan koreksi.
  • Warga tidak banyak komplain terhadap keputusan politik yang berdampak pada kehidupannya.
  • Ketidakmampuan warga untuk berpartisipasi aktif bukan sepenuhnya karena pilihan, namun karena kultur untuk bertindak yang masih rendah.

tipe-tipe budaya politik

◊ Tipe budaya politik partisipan

Tipe budaya politik ini memiliki tingkat partisipasi yang paling tinggi jika dibanding dua budaya politik lainnya. Budaya politik partisipan merupakan budaya yang berprinsip bahwa seluruh warga menyadari posisinya dan proporsinya sebagai bagian dari sistem politik dan pemerintahan. Kesadaran ini berlanjut pada perilaku aktif warga untuk mengontrol, mengawal dan mengkritik setiap kebijakan dan keputusan politik yang dilakukan oleh pemerintahnya.

Karakteristik utama budaya politik ini adalah adanya tingkat partisipasi warga yang cukup tinggi dalam berpolitik. Sebagai contoh, warga datang ke TPS untuk mencoblos. Di warung kopi, mereka membicarakan biaya hidup yang makin naik karena ketidakbecusan pemerintah sekarang mengelola ekonomi, dan sebagainya. Tipe budaya ini biasanya tampak pada masyarakat urban yang modern dan demokratis.

Baca juga: Pengertian Demokrasi



Adapun ciri-ciri tipe budaya politik partisipan:

  • Warga memiliki kesadaran akan hak dan kewajibannya sebagai warga negara dan menggunakan hak dan kewajiban tersebut.
  • Warga dengan penuh kesadaran menerima atau menolak keputusan politik yang dibuat oleh otoritas pemerintah.
  • Warga memiliki loyalitas yang kritis terhadap pemerintah.
  • Warga cenderung tidak mau begitu saja tunduk pada keadaan.
  • Warga berpartisipasi aktif dalam pemilu dan kerap berperan seperti aktivis pasca pemilu.

Baca juga: Sistem Pemerintahan Indonesia