Sosiologi Agama: Pengertian, Teori & Contoh Studi

Sosiologi agama merupakan sub disiplin sosiologi yang mempelajari hubungan antara agama dan masyarakat. Agama telah hidup lama bahkan sejak atau mungkin sebelum masyarakat itu eksis. Melalui penemuan simbol-simbol dan tradisi keagamaan, agama secara ilmiah diklaim sudah ada di peradaban kuno dan masih ada sampai saat ini.

Agama sebagai salah satu elemen yang dekat sekali dengan masyarakat menarik perhatian para pembelajar sosiologi yang notabene membelajari keseluruhan elemen kehidupan masyarakat. Postingan ini akan menjelaskan secara singkat tentang apa itu sosiologi agama, ruang lingkupnya, contoh studinya, dan teori-teorinya yang dapat diaplikasikan dalam mempelajari sosiologi agama.



Baca juga: Definisi Sosiologi

Pengertian sosiologi agama

Sebagaimana telah disinggung di paragraf awal, sosiologi agama merupakan salah satu sub disiplin dalam sosiologi. Sub disiplin ini fokus mengkaji fenomena sosial yang berkaitan dengan relasi antara agama dan masyarakat.

Dalam sosiologi, agama bisa dilihat sebagai sistem keyakinan atau insititusi sosial. Sebagai sistem keyakinan, agama mempengaruhi atau bahkan menentukan bagaimana orang berpikir, bertindak dan berperilaku. Sedangkan sebagai insitusi sosial, agama merupakan seperangkat norma, nilai dan aturan yang membentuk pola tindakan sehingga terorganisir dan berkembang secara dinamis dalam rentang historis tertentu.

sosiologi agama

Perlu dicatat di sini bahwa sub disiplin ini tidak menaruh perhatian yang khusus pada apa yang diyakini orang tentang agamanya. Namun fokus perhatian lebih diarahkan pada bagaimana agama mempengaruhi kehidupannya dan bagaimana seseorang atau masyarakat memberi makna, tafsir, dan memahami agamanya dalam konteks sosial dan kultural yang spesifik.

Untuk memahami secara lebih detail tentang sosiologi agama, kita perlu menyinggung sedikit tentang ruang lingkup atau objek kajiannya. Apa saja yang dipelajari oleh sub disiplin ini?



Baca juga Sosiologi Budaya: Definisi, Ruang Lingkup & Teorinya

Ruang lingkup sosiologi agama

Pembelajar sosiologi bisa mengajukan pertanyaan penelitian berikut untuk memahami apa saja objek kajian sub disiplin ini:

Bagaimana institusi religius dibentuk dan diorganisir?

Bagaimana agama mempengaruhi proses perubahan sosial di masyarakat?

Bagaimana agama mempengaruhi institusi sosial lain seperti ekonomi, pendidikan, budaya, gender dan sebagainya?

Bagaimana sistem keyakinan yang dianut seseorang mempengaruhi perilakunya?

Berbagai pertanyaan lain bisa diajukan selama berkaitan dengan agama baik sebagai sistem keyakinan atau pun institusi sosial. Banyaknya pertanyaan yang bisa diajukan menunjukkan bahwa sosiologi agama memiliki ruang lingkup kajian yang cukup luas.

Dari pertanyaan yang diajukan di atas, kita bisa indentifikasi bahwa sub disiplin sosiologi ini mengkaji relasi atau pengaruh agama terhadap perubahan sosial, insitusi sosial, tindakan sosial dan perilaku sosial dan sebaliknya.

Di era kontemporer seperti sekarang ini, agama menjadi area diskusi yang hangat diperbincangkan. Perspektif sosiologi tak jarang ikut berkontribusi dalam menangkap dan mengulas fenomena kontemporer yang lekat dengan isu-isu keagamaan secara kritis.



Baca juga Masyarakat Madani: Pengertian dan Contohnya

Contoh studi sosiologi agama

Berikutnya saya akan paparkan beberapa contoh studi yang relevan dalam kajian sosiologi agama. Contoh yang akan saya berikan ini berdasarkan pada pengamatan pada berita-berita yang sering muncul ke permukaan lewat media.

Pertama, studi tentang keislaman dan keindonesiaan. Maraknya isu diskriminasi terhadap kaum muslim yang dianggap kearab-araban memantik munculnya pertanyaan apakah mungkin untuk menjadi seorang muslim sekaligus menjadi orang Indonesia yang pancasilais?

Kedua, studi tentang terorisme dan radikalisme. Cover media mainstream yang secara global dan nasional sering menyudutkan Islam berdampak pada terciptanya stereotype bahwa Islam adalah agama teroris dan kaum muslim adalah kaum radikal. Miskonsepsi semacam itu harus diluruskan. Salah satunya melalui studi kritis yang objektif dalam mendefinisikan teorisme dan radikalisme.

Ketiga, studi tentang konsepsi jihad. Jihad merupakan salah satu istilah yang kini mengalami misinterpretasi makna sehingga dipahami jauh dari arti sebenarnya. Studi sosiologis melihat jihad tak lepas dari bagaimana istilah tersebut diinterpretasikan oleh kelompok tertentu dalam periode waktu tertentu dengan tujuan tertentu.

Ketiga contoh studi tersebut hanyalah sebagian kecil studi kontemporer yang kini muncul dalam banyak kajian sosiologi agama. Di masa lalu, para dedengkot sosiologi seperti Emile Durkheim dan Max Weber telah melakukan studi ekstensif yang sering menjadi rujukan pokok berkembangknya sub disiplin ini.

Durkheim melakukan studi tentang pengaruh agama dalam menciptakan integrasi dan kohesitivas sosial dalam ”Elementary Forms of Religious Life”. Weber meneliti tenang bagaimana agama melalui asketisme mempengaruhi terciptanya spirit kapitalisme dalam ”The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism”.



Baca juga Ekonomi Islam: Definisi, Prinsip dan Contohnya

Teori-teori sosiologi agama

Berikutnya kita akan bahas beberapa teori besar yang sering digunakan dalam mengkaji agama secara sosiologis.

  • Teori fungsionalisme struktural

Teori ini melihat agama sebagai entitas perekat hubungan sosial. Melalui tradisi yang dipraktikkan secara reguler oleh penganutnya, agama merupakan sebuah kekuatan besar yang membentuk keyakinan kolektif. Keyakinan kolektif ini dipraktikkan melalui tradisi dan mampu meningkatkan potensi solidaritas sosial dan integrasi sosial masyarakat yang menganutnya.

  • Teori weberian

Teori ini melihat agama sebagai institusi sosial yang mempengaruhi insitusi sosial lain seperti pendidikan dan ekonomi. Max Weber melakukan studi tentang bagaimana sistem keyakin yang dianut seseorang menjadi kerangka dasar pemikiran untuk menciptakan kekayaan dan kesejahteraan ekonomi.

  • Teori konflik

Teori ini mendapat inspirasi dari Karl Marx. Marx melihat agama sebagai instrumen yang dimanfaatkan oleh kelas elit terhadap kelas lain di bawahnya. Agama secara kritis dilihat oleh Marx sebagai alat ideologis penguasa untuk menyebarkan doktrin pembenaran atas eskploitasi yang dilakukannya terhadap rakyat banyak.

  • Teori interaksi simbolik

Teori ini memandang bahwa perbedaan agama muncul dalam masyarakat yang berbeda dengan konteks historis yang berbeda. Perbedaan tersebut tidak lain karena dipengaruhi oleh perbedaan interpretasi yang membentuk makna yang berbeda di tiap-tiap agama. Dari perspektif ini, teks sakral agama-agama tidak lagi dilihat sebagai kebenaran mutlak, namun hasil interpretasi yang historikal dan kontekstual.

Baca juga Sosiologi: Sebuah Pengantar Singkat