Sosialisasi Politik: Pengertian, Agen & Contohnya

Sosialisasi politik merupakan proses pembelajaran nilai, keyakinan, perilaku dan pengetahuan politik. Definisi umumnya seperti itu. Dalam prosesnya, sosialisari politik meibatkan beberapa agen dan berlangsung dalam periode waktu yang tidak singkat.

Artikel ini akan membahas secara singkat dan padat mengenai apa itu sosialisasi politik, siapa saja yang menjadi agennya, dan seperti apa contohnya.

Di media sosial, kita dengan mudah menemukan pendukung calon kepala negara yang begitu fanatik. Seolah kebenaran ada pada calon yang didukung. Setelah terpilih tenyata hidungnya memanjang.

Budaya Politik: Pengertian dan Contohnya

Mengapa beberapa orang begitu yangkin bahwa pandangannya tentang siapa yang pantas memimpin negara adalah yang paling benar? Ini tidak lepas dari bagaimana sosialisi politik berlangsung dan terinternalisasi dalam dirinya. Kita mulai dari pengertiannya.

Pengertian sosialisasi politik

Sosialisasi politik merupakan konsep yang luas mencakup bagaimana individu secara aktif maupun pasif, secara formal maupun informal berproses dalam memperoleh kedewasaan politik.

Individu mengembangkan pandangan dan preferensi politik pada dirinya. Suatu upaya mengidentifikasi siapa dirinya secara politis dalam kontestasi pandangan politik di dunia.

Misalnya, saya adalah orang yang percaya bahwa kaum marjinal seperti difabel dan korban perang harus diutamakan dalam pembangunan negara. Oleh karena itu, pandangan politik saya selalu berpihak pada mereka yang tersisih.

Pandangan ini bukan pilihan yang muncul tiba-tiba melainkan melalui proses sosialisasi politik. Seperti apa sosialisasinya? Bisa bermacam-macam. Saya paparkan ilustrasinya sekadar untuk contoh saja.

Di ruang kelas, seorang mahasiswa mengambil mata kuliah tentang inklusi sosial. Pengajarnya mendatangkan penyandang disabilitas yang haknya mendapatkan bantuan dari negara dihilangkan karena revisi Undang-Undang oleh DPR.

Ketidakadilan membuat mahasiswa tersebut marah. Kemarahannya dilampiaskan secara intelektual dengan melakukan penelitian tentang penindasan struktural oleh negara pada kaum difabel. Selama proses penelitian, mahasiswa tersebut bertemu aktivis dan relawan penyandang disabilitas.

Proses diskusi, wawancara, membaca buku membentuk keyakinannya bahwa negara tidak boleh mengabaikan mereka yang terpinggirkan. Tak hanya itu, keberadaan negara adalah untuk melindungi hak-hak mereka yang berada di posisi marjinal.

Proses pembelajaran itu merupakan proses sosialisasi politik yang membentuk keyakinan politiknya. Dari ilustrasi di atas kita bisa mencatat apa saja agen sosialisasi politiknya.

Sistem Pemerintahan Indonesia

Agen sosialisasi politik dan contohnya

Buku akademik

Buku yang ia baca menjadi agen sosialisasi yang membentuk pandangan politiknya. Tentu saja, buku ada penulisnya. Sehingga kita juga bisa menyebutkan bahwa penulis buku merupakan agen sosialisasi. Tetapi kita tidak perlu sampai menyebutkan penjual buku sebagai agen sosialisasi politik.

Aktivis difabel

Para aktivis yang ditemuinya, diwawancarainya atau menjadi lawan diskusinya merupakan agen yang ikut membentuk nilai-nilai dan keyakinan politiknya. Mereka adalah agen sosialisasi politik yang berkontribusi besar pada mahasiswa tersebut.

Seorang difabel

Seorang difabel yang memberikan kuliah di dalam kelas juga merupakan agen sosialisasi politiknya. Dari situ awal mula kesadaran politik tentang hak-hak warga negara yang direnggut muncul.

Ketiga contoh agen sosialisasi politik di atas memberi petunjuk pada kita untuk menyimpulkan bahwa siapapun dan apapun bisa menjadi agen sosialisasi politik, selama agen tersebut dapat memberikan proses pembelajaran yang membentuk sikap, perilaku, nilai, keyakinan dan pengetahuan politik kita.

Cotntoh lain yang sering disebutkan sebagai agen sosialisasi politik di buku-buku pelajaran adalah sebagai berikut:

Keluarga

Keluarga merupakan agen sosialisasi yang sangat berpengaruh. Sejak masa anak-anak, kita dihadapkan oleh kenyataan bahwa kita hidup dalam komunitas yang sangat politis. Kita diyakinkan oleh orang tua dan orang di sekitar bahwa kita orang Indonesia suka percaya dan manutan. Cara kita memilih pemimpin adalah manut pada pilihan kyai. Begitulah politik disosialisasikan.

Teman

Agen yang satu ini juga sangat kuat pengaruhnya. Buktinya, sering kali untuk mengetahui siapa dia, kita cukup mencari tau dengan siapa dia berteman. Siapa kita juga bisa diketahui dengan siapa kita berteman. Contohnya, pendukung Popeye akan berteman dengan pendukung Popeye. Mereka tidak suka dengan pendukung Brutus.

Media sosial

Media sosial adalah agen sosialisasi politik kontemporer. Sebagai contoh kita ngeklik meme Brutus karena Brutus tidak layak jadi pemimpin. Setelah itu muncul postingan yang memuji junjungan kita. Lalu, kita share apa yang diposting itu sehingga menyebar ke followers kita. Begitulah algoritma media sosial memperkuat preferensi politik kita dan menolak dialog terhadap perbedaan.