Sifat Sosiologi dan Penjelasannya

Sifat sosiologi meliputi beberapa kaidah ilmiah yang membuat sosiologi layak menyandang status sebagai ilmu pengetahuan. Beberapa pengajar menjelaskan tentang sifat ilmu pengetahuan sebagai seperangkat karakteristik yang membentuk hakikat ilmu pengetahuan. Istilah sifat dan hakikat sering kali dipergunakan secara bergantian karena pada prinsipnya bermakna sama.

Postingan ini akan membahas tentang beberapa sifat sosiologi sebagai ilmu pengetahuan. Pembahasan didesain berupa ringkasan per poin dan ulasan untuk kemudahan pemahaman pembaca. Dengan mempelajari sifat-sifat sosiologi, kita akan memahami definisi dan substansi sosiologi sebagai sebuah ilmu pengetahuan.

Baca juga: Pengertian Sosiologi Menurut Para Ahli



Sosiologi sering dijuluki sebagai ”the Mother of Social Science”, atau ibunya ilmu sosial. Julukan ini disematkan karena tak lepas dari sifat sosiologi yang memungkinkannya untuk berdiri sendiri sebagai sebuah ilmu pengetahuan. Namun perlu ditegaskan bahwa sosiologi merupakan salah satu saja dari rumpun ilmu sosial yang lebih luas. Apa saja sifat-sifat sosiologi? Berikut ini ulasannya.

Sifat-sifat sosiologi

Pertama, sosiologi merupakan bagian dari rumpun ilmu sosial yang mempelajari masyarakat sebagai ruang lingkup atau objek kajiannya.

Di sini jelas dikatakan bahwa ilmu sosial memiliki objek kajian yang luas. Sosiologi fokus pada aspek sosial kemasyarakatan yang menjadi objek kajian. Dengan menempatkan masyarakat sebagai objek kajian, sosiologi memiliki kejelasan tentang apa yang dikaji. Sebagaimana ilmu sosial lain, misalnya psikologi yang fokus pada kajian tentang jiwa manusia, sosiologi fokus pada hubungan antara manusia yang membentuk masyarakat.

Baca juga: Objek Kajian Sosiologi



Kedua, sosiologi merupakan disiplin ilmu yang kategoris, yaitu mempelajari apa yang senyatanya terjadi dan bukan apa yang seharusnya terjadi.

Sifat ini biasa disebut juga dengan das sein, yang artinya senyatanya. Sosiologi mempelajar gejala-gejala dan fakta-fakta sosial. Sebagai contoh, fenomena bunuh diri yang menimpa kalangan remaja putus cinta, akan dilihat sebagai sebuah fakta. Sebagai manusia hidup, mungkin kita miris dan tidak menghendaki bunuh diri terjadi pada mereka. Kita berpikir bahwa seharusnya bunuh diri tidak terjadi. Namun nyatanya terjadi. Sosiologi mempelajari apa yang senyatanya terjadi.

Ketiga, sosiologi merupakan ilmu pengetahuan murni sekaligus terapan, yaitu ilmu yang dikembangkan untuk kepentingan ilmu itu sendiri dan ilmu yang dikembangkan untuk transformasi sosial.

Ilmu murni atau dalam bahasa Inggris pure science, mengkaji teori untuk mengembangkan teori. Ketika teori tersebut diterapkan untuk mengubah tatanan sosial di masyarakat, maka sudah menjadi ilmu terapan. Sosiologi memiliki kapasitas untuk berperan sebagai keduanya. Sebagai contoh, seorang sosiolog meneliti pola interaksi sosial masyarakat kota. Pola interaksi tersebut terus berkembang menghasilkan teori baru tentang interaksi sosial kaum urban. Ketika sosiolog tersebut menurunkan teorinya kepada para pembuat kebijakan untuk mengubah pola interaksi masyarakat urban, maka ilmu sosiologi yang digunakan sudah menjadi terapan.

Baca juga Sosiologi: Sebuah Ringkasan



Keempat, sosiologi bersifat abstrak dan bukan konkret, yaitu fokus perhatian sosiologi adalah pada pola-pola sosial yang ajeg, bukan insidental dan individual.

Misalnya, seorang perampok bunuh diri setelah gagal merampok. Sosiolog tidak menaruh perhatian pada insiden tersebut. Namun apabila dalam masyarakat terjadi fenomena sosial yang berpola, yaitu misalnya sekelompok perampok dalam kurun waktu seminggu terakhir bunuh diri karena gagal merampok, sosiologi akan menaruh perhatian untuk mengkajinya. Komplotan perampok yang bunuh diri massal merupakan feomena sosial yang berpola. Keajegan bisa diidentifikasi dari beberapa hal, misal bunuh diri terjadi berurutan dalam waktu seminggu. Semua yang bunuh diri adalah perampok, dan sebagainya.

Kelima, sosiologi menghasilkan pengertian-pengertian umum sosial kemasyarakatan. Pengertian tersebut tak jarang menjadi prinsip dan hukum-hukum sosial.

Sebagai contoh, sosiologi mendefinisikan pola konsumsi masyarakat terhadap budaya pop sebagai upaya pendefinisian identitas diri dan kelas sosial. Seseorang yang memilih main golf untuk diposting di Instagram sedang berupaya untuk mendefinisikan siapa dirinya dan berasal dari kelas mana. Main golf sebagai olah raga sekaligus gaya hidup tidak lepas dari upaya menunjukkan dan menjaga identitas diri. Prinsip dan hukum sosial yang muncul dari contoh tersebut, misalnya adalah olah raga golf menjadi penanda kelas sosial.

Baca juga: Konsep Dasar Sosiologi



Keenam, sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang empiris dan rasional. Empiris artinya hasil kesimpulan diperoleh dari observasi dan pengalaman hidup bukan spekulasi. Sedangkan rasional artinya argumen dibuat berdasarkan akal sehat dan bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Sebagai contoh, peneliti sosiologi mengatakan bahwa perampokan di perumahan elit disebabkan oleh tingkat kesenjangan sosial yang tinggi antara warga perumahan elit dan masyarakat sekitar. Argumen ini tentu saja tidak secara langsung menyalahkan perampok yang telah merampok, tapi cenderung menyalahkan pihak-pihak yang membuat kesenjangan sosial semakin tinggi. Peneliti berargumen berdasarkan data empiris dan cara berpikir rasional yang menghasilkan temuan penelitiannya, bukan hasil spekulasi.

sifat sosiologi

Dari keenam sifat sosiologi di atas kita bisa mengetahui bahwa sosiologi telah memenuhi kaidah-kaidah ilmiah sebagai ilmu pengetahuan. Berdasarkan sifat-sifatnya tersebut, sosiologi pada hakekatnya merupakan ilmu sosial yang bisa berdiri sendiri.

Baca juga: Hakikat Sosiologi dan Contohnya