Rumusan Masalah Penelitian Sosial

Rumusan masalah penelitian dalam ilmu sosial merupakan hasil problematisasi yang diekspresikan ke dalam bentuk pertanyaan.

Pertanyaan yang dimaksud tentu saja pertanyaan penelitian. Pengalaman beberapa mahasiswa menunjukkan bahwa membuat rumusan masalah penelitian tidaklah mudah.

Sebenarnya hal ini sangat tergantung pada penguasaan peneliti terhadap isu yang diteliti. Jika kamu menguasai isu tentang ketimpangan gender, membuat pertanyaan penelitian tentang gender tidak sesulit yang dibayangkan.

Bagaimana ketimpangan gender membentuk pembagian kerja di rumah tanggga suku Dani? Misalnya saja seperti itu pertanyaan penelitian tentang relasi gender suku Dani.

Di artikel ini kita akan mencoba mengelaborasi tentang rumusan masalah penelitian dalam bidang ilmu sosial. Secara teknis, membuat rumusan masalah cukup mudah jika kamu mengetahui triknya.

Metode Penelitian: Pengertian, Jenis & Contohnya

Contoh rumusan masalah penelitian sosial

Dalam ilmu sosial, terdapat pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Secara sederhana, rumusan masalah penelitian kualitatif berbeda dengan kuantitatif.

Salah satu karakteristik utama rumusan masalah kuantitatif adalah menyebutkan variabel dan istilah ‘pengaruh’ secara eksplisit, meskipun tidak selalu. Misalnya, bagaimana pengaruh kesadaran brand terhadap perilaku konsumsi anak muda di mall.

Sedangkan penelitian kualitatif, biasanya fokus pada pemaknaan. Misalnya, bagaimana komunitas pendaki gunung perempuan memaknai aktivitas naik gunung.

Secara singkat kita bisa ketahui bahwa rumusan masalah penelitian sosial kuantitatif menekankan pada hubungan antar variabel. Sedangkan kualitatif menekankan pada eksplorasi dan interpretasi makna sosial.

Bagaimana cara membuat rumusan masalah penelitian sosial?

Salah satu trik yang tidak sekadar teknis saya paparkan disini. Trik ini memiliki fondasi teoritis, juga bisa membantu kamu memformulasikan rumusan masalah penelitian.

Teori yang saya maksud adalah tentang imajinasi sosiologis. Apa itu imajinasi sosiologis? Menghubungkan persoalan personal pada konteks sosial. Ingat bahwa riset sosial tidak fokus pada masalah pribadi atau individu, melainkan pada masalah sosial.

Namun kenyataannya, mahasiswa atau peneliti pemula diminta untuk mencari ide penelitian yang dekat dengan kehidupan atau pengalamannya yang sangat individual.

Tak jarang, peneliti mengambil topik penelitian yang relevan dengan kehidupan sehari-harinya. Misalnya, mereka yang tiap hari nonton drama Korea berniat meneliti tentang Konstruksi Identitas Fandom Drakor di Media Sosial.

Menurutnya fans k-pop terbagi menjadi dua kelompok besar yang berkonflik satu sama lain.

Tapi persoalannya adalah bagaimana membuat rumusan masalah tentang itu. Sepertinya, tidak ada masalah sosial yang perlu dipecahkan, kecuali sentimen internal antar penggemar k-pop.

Untuk itu, imajinasi sosiologi perlu diaktifkan.

Saya beri ilustrasi contoh yang lain. Contoh ini dapat digunakan untuk latihan bagaimana mengaktifkan imajinasi sosiologis kita.

Sekali lagi, imajinasi sosiologis adalah membuat koneksi antara masalah individual dengan problem sosial. Jika kita bisa menghubungkan masalah individual menjadi masalah sosial, maka kita berhasil menemukan ide untuk penelitian.

Misalnya, di supermarket kamu melihat seorang pembeli mengutil, melepas barcode item, memasukkan ke dalam sakunya, dan menyelinap keluar supermarket. Kita berpikir bahwa tindakan itu merupakan kriminalitas dan orang itu adalah seorang kriminal.

Kita bisa saja meneliti tentang kriminalitas di supermarket. Tetapi melakukan tindakan kriminal itu adalah masalah personal orang yang mengutil tadi.

Ketika kita membuat rumusan masalah, maka kita tidak fokus pada bagaimana cara ia mengutil sehingga berhasil atau apa saja tahapan-tahapannya, bahkan persiapannya. Tidak ke arah situ penelitian sosial yang dilakukan.

Melainkan kita harus membuat koneksi masalah personal ke konteks sosial. Artinya, fokus pada apa yang menjadi problem sosial problem masyarakat.

Masalah Sosial: Contoh & Solusinya

Salah satu problematisasi yang bisa dilakukan adalah tentang bagaimana pusat perbelanjaan di perkotaan seperti supermarket mengorganisir sistem keamananya supaya terhindar dari kriminalitas.

Penggunaan CCTV adalah teknis pencegahannya. Tetapi pembelajar ilmu sosial akan bertanya mengapa perlu dipasang kamera pengawas. Apakah keberadaan kamera itu merefleksikan relasi antara penjual dan pembeli yang berbasis pada ketidakpercayaan? Atau apakah lingkungan di sekitar supermarket itu merupakan lingkungan kriminal dimana ngutil menjadi resiko yang wajar sehingga perlu dipasang CCTV?

Dengan mempertanyaan keberadaan CCTV, kamu berusaha membuat suatu kasus dimana perilaku mengutil di supermarket yang kamu saksikan adalah masalah sosial yang harus diteliti dan dipecahkan.

Kamu tidak bertanya tentang bagaimana cara kriminal itu mengutil, tetapi mempertanyakan bagaimana pengorganisasian sistem keamanan di supermarket merefleksikan tingkat kriminalitas di suatu kota.

Imajinasi sosiologis membantu kamu menghubungkan antara perilaku kriminal yang individual dengan persoalan sosial berupa kriminalitas di perkotaan.