Rumusan Masalah: Cara Membuat & Contohnya

Rumusan masalah merupakan salah satu bagian paling vital dalam penelitian. Kalau kamu sedang mengerjakan karya ilmiah atau menulis skripsi, maka bagian ini menjadi tuntutan yang harus sudah final di awal.

Rumusan masalah merupakan produk dari problematisasi isu yang biasanya dinarasikan dalam bentuk pertanyaan. Pertanyaan tersebut menjadi pertanyaan penelitian. Oleh karena itu, sering dikonotasikan dengan pertanyaan penelitian.

Persoalan membuat rumusan masalah bukan cuma persoalan teknis, tetapi juga substantif. Kamu mau tidak mau harus memahami apa yang ingin kamu teliti, baru bisa membuatnya.

Identifikasi Masalah: Pengertian & Contohnya

Saya akan paparkan cara membuat rumusan masalah disertai dengan contohnya. Semoga bisa membantu kamu membuat sendiri rumusan masalah sesuai dengan penelitian kamu.

Cara membuat rumusan masalah

Cukup dua langkah yang bisa kamu lakukan. Pertama, mau penelitian apa (ide) dan spesifikkan. Kedua, mulai dengan kata tanya (pertanyaan penelitian). Langsung saja kita melihat contohnya.

Ada yang bertanya pada saya tetang bagaimana memproblematisasi isu tentang sepinya museum sejarah di Batu Raden.

Ia punya ide untuk meneliti tentang matinya museum yang sekadar memamerkan koleksi barang antik dibungkus kaca dengan deskripsi singkat di kacanya. Kemana pengunjung museum hari ini?

Kalau ia mau meneliti tentang sepinya muesum, bagaimana membuat rumusan masalahnya? Kita mulai dari mem-spesifikkan ide. Masalahnya adalah museum sepi. Oke di sini kita bisa pahami ini adalah sebuah masalah yang bisa diteliti.

Tapi kita harus bertanya, sepi oleh siapa? Siapa yang diharapkan mengunjungi musem? Lalu kita jawab, anak muda. Dengan demikian, kita mendapakan subjek penelitiannya, yaitu anak muda. Lebih baik kita spesifikkan lagi siapa atau dimana anak muda itu. Misal mahasiswa jurusan sejarah Unibara (Universitas Batu Raden).

Mulai kita mendapatkan ide yang spesifik, yaitu anak muda berstatus mahasiswa yang mempelajari sejarah di Uniara, mestinya pernah ke museum Batu Raden. Kita berharap mereka ke museum karena minat pribadi. Dengan kata lain, karena keterikatan secara emosional dan intelektual. Bukan tugas kuliah.

Tetapi masalahnya, museum Batu Raden sepi. Sehingga kita bisa ketahui, mengapa mereka yang memiliki ikatan keilmuan, minat pada sejarah dan belajar di Unibara tidak ke museum itu.

Batasan Masalah: Contoh dan Cara Membuatnya

Dari ide itu, kita bisa buat formulasi pertanyaan penelitiannya.

Misal saya buat seperti ini:

Bagaimana pengaruh minat studi sejarah mahasiswa Unibara terhadap intensitas kunjungan museum Batu Raden?

Survei terhadap mahasiswa sejarah Unibra bisa dilakukan. Desain penelitiannya adalah kuantitatif. Atau pertanyaan lain juga bisa kita desain, misalnya:

Bagaimana mahasiswa jurusan sejarah di Unibara membangun konsepsi ideal tentang museum?

Eksplorasi kualitatif bisa dilakukan terhadap mahasiswa sejarah di Unibara untuk mengetahui jangan-jangan museum sepi karena konsepsi ideal museum menurut mereka tidak sinkron dengan penampakan museum di Batu Raden.

Penelitian itu dilakukan pada subjek yang spesifik. Tetapi dari penelitian itu kita bisa mengaplikasikan pada konteks yang berbeda. Misalnya, ternyata minat pada pengetahuan sejarah pun tidak bisa membuat anak muda mengunjungi musem, sehingga ada penjelasan lain mengapa museum sepi. Pastinya bukan membangkitkan minat anak muda pada sejarah.

Dengan contoh itu, kita bisa mengetahui betapa pentingnya membuat ide yang umum menjadi spesifik. Salah satu triknya adalah membayangkan apa yang menjadi subjek penelitian kamu. Anak muda adalah subjek penelitian, namun kurang spesifik.

Anak muda yang belajar sejarah, misalnya mahasiswa jurusan sejarah lebih spesifik tapi perlu difokuskan lagi konteksnya. Akhirnya, kita buat mahasiswa jurusan sejarah di Unibara.

Bisa saja kamu menuliskan mahasiswa sejarah di beberapa universitas. Hal yang penting di sini adalah mebuat ide menjadi lebih spesifik.