Politik Identitas

Politik identitas telah menjadi salah satu konsep penting dalam memahami fenomena politik belakangan ini. Saya akan cerita sedikit mengenai acara diskusi bertemakan politik identitas yang berlangsung sekitar beberapa waktu lalu di salah satu universitas swasta di Yogyakarta. Talk show bertema ‘Menolak Kekerasan Terhadap Perempuan’ menghadirkan pembicara yang cukup provokatif terhadap fenomena-fenomena diskriminatif baik dalam aspek sosial, politik maupun budaya. Analisis pembicaraan dalam talkshow tersebut berlandaskan pada sebuah gerakan sosial. Gerakan itu disebut feminisme.

Feminisme seperti sebuah gerakan sosial pada umumnya memiliki tujuan yang ingin dicapai dengan metode yang dipercaya ampuh. Dalam hal ini feminisme berkaitan dengan relasi kuasa dan perlawanan, akhirnya, secara politis lahir perjuangan untuk menciptakan kuasa yang selama ini dipandang diskriminatif.

Baca juga Gender: Sebuah Konstruksi Sosial


Feminisme sendiri memiliki beragam bentuk gelombang yang berlandaskan atas kesamaan identitas. Gerakan ini pada awalnya dimotori oleh kaum perempuan. Kesamaan-kesamaan identitas seksual menjadi pemersatu pandangan demi tujuan yang ingin dicapai. Identitas sebagai sebuah konsep memiliki definisi yang luas dan variatif.

Perempuan adalah identitas. Begitu pula status sosial, agama, perlakuan kultural, posisi politik tertentu juga merupakan identitas. Sebuah gerakan yang berlandaskan identitas dapat disebut sebagai politik identitas. Tetapi dalam pengertian teori sosial dan politik, politik identitas memiliki makna yang lebih spesifik ketimbang pengertian yang luas.

politik identitas

Cressida Heyes memberi definisi politik identitas yang sangat jelas. Menurutnya politik identitas adalah aktivitas politik dalam arti luas yang secara teoritik menemukan pengalaman-pengalaman ketidakadilan yang dirasakan kelompok tertentu dalam situasi sosial tertentu. Politik identitas lebih mengarah pada gerakan dari ‘kaum yang terpinggirkan’ dalam kondisi sosial, politik, dan kurtural tertentu dalam masyarakat. Dalam perjuangan politik, penggunaan identitas memberi hasil positif yang berpengaruh secara signifikan. Identitas adalah konsep kunci dalam arena politik. Secara teoritik, identitas memiliki definisi yang cukup dalam.

Baca juga Partai Politik: Pengertian, Sejarah dan Fungsinya



Stuart Hall mendefinisikan identitas sebagai proses yang terbentuk melalui sistem bawah sadar. Sistem bawah sadar berjalan melalui waktu dan membentuk bayangan imajiner yang tidak pernah menemui titik akhir. Stuart Hall lebih menilai identitas sebagai proses menjadi (becoming) daripada nilai baku atau taken for granted.

Definisi dari Cresida Heyes dan Stuart Hall tentang politik identitas memberi deskripsi yang jelas posisi politik identitas dalam ruang demokrasi. Relasi-relasi gerakan dalam menciptakan artikulasi berdemokrasi mununjukan bahwa nafas demokrasi sedang bertiup.

Di lain sisi, benturan-benturan yang menimbulkan konflik, otomatis rentan terjadi, meminjam istilah Tariq Ali, rentan terjadi “clash of fundamentalists” dalam kehidupan masyarakat, atau Huntington dengan lebih ekstrim mengatakan, “clash of civilization” dimana keduanya merupakan cacat dalam demokrasi.

Baca juga Demokrasi: Pengertian dan Sejarah Singkat



Gerakan feminisme atau gerakan lain yang berdasar praktik diskriminasi gender, etnis, ras, atau yang lainya melahirkan konsep politik identitas. Talkshow di universitas tersebut ditutup dengan tantangan dari pembicara untuk mengucapkan janji agar berpihak pada gerakan ‘Menolak Kekerasan Terhadap Perempuan’ sekaligus memperjuangkan feminisme. Yang terkhir disebut menuai perdebatan dari peserta. Talkshow bubar dengan hawa panas.

Baca juga Konsep Dasar Sosiologi: Beberapa Istilah Umum