Politik Hashtag

politik hashtag

Generasi internet selalu memiliki kebiasaan yang belum pernah dilakukan oleh generasi manapun sebelumnya. Salah satunya, meletakkan gadget di tangan menjelang tidur dan ketika bangun tidur. Begitu kata Don Tapscott, menjelaskan hasil risetnya yang dipublikasikan dalam bukunya ‘Grown Up Digital’. Saya sendiri, sesekali tidak melakukannya. Namun selebihnya, mengotak-atik gadget sebagaimana kata Don Tapscott, demi memastikan bahwa hasil risetnya itu tak keliru.

Tulisan ini saya tulis ketika chaos sedang terjadi di Mesir. Sambil tiduran bersandar bantal, saya menyusuri perdebatan seputar kondisi politik Mesir melalui twitter. Disela-sela menyimak timeline, gambar tragis tragedi politik di Mesir sesekali muncul di layar. Efek thriller visual itu bagaikan menarik diri saya kedalam pesan-pesan yang penuh emosional. Pertanyaan berkesan idealis segera menyeruak. Bagaimana saya dapat melibatkan diri untuk mendukung suatu kelompok tertentu dalam sebuah perdebatan politik?

Aplikasi berlogo burung biru itu bagaikan membuka ruang bagi saya untuk terlibat. Jawabannya adalah hashtag. #Egyptmassacre melejit dalam trending topic world wide (TTWW) tepat menjelang tengah malam. Padahal, saya mendapati siang harinya baru saja dikampanyekan. Hashtag itu tentu kental muatan ideologi sekaligus representasi pandangan politik para penggunanya. Seperti yang diberitakan di televisi, simpang siur laporan para jurnalis tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi di Mesir seolah menjelaskan bahwa ada fakta-fakta yang berusaha ditutupi. Kini kita pun kudu mengganti channel jika seorang reporter tidak memberi keterangan seperti yang kita inginkan.

Terlepas dari semua gambaran blur itu, sebenarnya, apa yang sedang terjadi di Mesir? pembubaran, bentrok, ataukah pembantaian? Media konvensional macam televisi memang sarat kepentingan politik.  Wajar jika saya rela mematikan televisi kemudian lari ke internet. Media sosial bagi saya dapat mengungkap fakta alternatif yang tidak diberikan oleh media-media lama. Orang-orang biasa seperti saya memiliki ruang untuk mengekspresikan sikap politiknya.

Hari itu juga, #egyptmassacre menjadi ajang pertunjukkan haluan politik penggunanya yang menganggap apa yang terjadi di Mesir adalah sebuah pembantaian. Meskipun banyak pakar bilang bahwa sebuah hashtag cenderung mereduksi makna sebenarnya, keberadaannya tetap memudahkan pengguna sosial media untuk melakukan aksi, apalagi untuk ikut memberi argumentasi politik.

Konon, gerakan hashtag juga berperan melupakan apa yang seharusnya dilakukan oleh orang-orang, yaitu turun ke jalan. Saya menunda untuk setuju pernyataan ini. Meskipun ada benarnya, terutama ketika mengetahui diri saya sedang melakukan sebuah gerakan dengan berbaring nyaman di atas kasur yang empuk. Namun pernyataan itu juga ada salahnya karena kini tak jarang kumpulan massa yang melakukan aksi turun ke jalan dimulai dari sebuah hashtag.