Pengertian Lembaga Sosial: Paparan Singkat

Pengertian lembaga sosial yang akan didiskusikan disini dimulai dari pemaparan para ahli, lalu kita coba tangkap apa yang menjadi persamaan dan perbedaan diantara pendapat-pendapat yang dikemukakan.

Sering kali kita dengan mendengar pengertian lembaga sosial sebagai sistem norma yang terinstitusionalisasi. Definisi itu cukup jelas mengidentifikasi kaitan antara lembaga dan norma.



Baca juga: Pengertian Norma

Bagaimana dengan pendapat para ahli?

Pengertian lembaga sosial

Tokoh sosiologi Talcott Parsons mengatakan bahwa lembaga sosial merupakan peran sosial yang kompleks yang telah melembaga ke dalam sistem sosial. Melembaga ke dalam sistem sosial artinya masuk dari arena yang subjektif ke yang objektif.

Soerjono Soekanto pernah merangkum beberapa definisi lembaga sosial yang dikemukakan para ahli. Kita paparkan versi ringkasnya disini. Diantara beberapa ahli yang dikutip pendapatnya, antara lain: Robert Melver, C.H. Page, Leopold von Wiese, Becker, dan W. G. Sumner.

<div id=’ADOP_V_TIPiUpDsjM’ style=’transition:height 1s ease-out; height:0;  overflow:hidden;’></div>
<script src=’https://compasscdn.adop.cc/js/adop_collapse_1.1.8.min.js‘ data-id=’ADOP_V_TIPiUpDsjM’ data-width=’336′ data-height=’280′ data-type=’re’ data-zone=’44fa5b86-93e1-44ff-812a-3145423d626d’ data-cl=’Y’ data-fl=’Y’ data-margin=’0,0,0,0′ data-fl-width=’400′ data-loc=’rb’></script>

Melver dan Page mendeskripsikan lembaga sosial sebagai tata cara atau prosedur yang diciptakan manusia untuk mengatur hubungan antarmanusia dalam suatu kelompok masyarakat.

Von Wiese dan Becker berpendapat bahwa lembaga sosial merupakan proses hubungan antarmanusia dan antarkelompok yang berpola sesuai minat dan kepentingan individu atau kelompoknya.

Sumner berpendapat bahwa lembaga sosial merupakan perbuatan, cita-cita, sikap dan perlengkapan kebudayaan yang ada untuk menciptakan dan memeilihara keteraturan dan integrasi sosial serta memenuhi kebutuhan masyarakat.

Tokoh antropologi Indonesia Koentjoroningrat mendefinisikan lembaga sosial sebagai sistem tata kelakuan dan hubungan antarmanusia yang berpusat pada aktivitas untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia yang kompleks

Tokoh sosiologi Indonesia Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi menyebutkan bahwa lembaga sosial merupakan seperangkat tata perilaku yang diakui oleh anggota masyarakat sebagai sarana untuk mengatur hubungan-hubungan sosial.

Soerjono Soekanto mendeskripsikan pengertian lembaga sosial sebagai himpunan norma dari tindakan-tindakan untuk memenuhi kebutuhan pokok manusia dalam kehidupan bermasyarakat.

Lembaga Sosial: Pengertian dan Contohnya



Dari pemaparan beberapa pengertian lembaga sosial di atas, kita menangkap variasi definisi yang diusulkan.

Untuk merangkum keseluruhan definisi tersebut tentu memerlukan upaya yang tidak mudah. Hal ini karena tidak adanya konsensus para ahli tentang definisi. Tetapi jika kita deteksi kemiripannya, tertangkap jelas di sana.

Lembaga sosial atau institusi sosial atau pranata sosial berkaitan dengan pengaturan hubungan antarmanusia di masyarakat.

Hubungan antarmanusia tercipta dalam rangka pemenuhan kebutuhan hidup sebagai manusia. Kita melihat peran manusia sebagai makhluk sosial di sini. Tidak hanya membutuhkan hubungan antarmanusia, kita juga membutuhkan semacam pola dan keteraturan hidup.

Setidaknya, itulah yang tersirat mengapa lembaga sosial ada.

Perbedaan yang muncul dari definsi yang dipaparkan di atas adalah tentang komponen asal lembaga sosial.

Talcot Parsons menyebut peran sosial. Koentjoroningrat menyebut tata perilaku. Soerjono Soekanto menyebut himpunan norma. Lainnya menyebut semuanya, yaitu perbuatan, cita-cita dan sikap. Jelas sekali perbedaan diantara ketiganya.

Tetapi saya ingin sampaikan bahwa jika kamu sedang mencari definisi yang paling lengkap dari lembaga sosial, usulan beberpa ahli di atas sebenarnya sangat komplementer.

Semuanya dapat saling melengkapi karena saling terkait. Peran sosial terkait dengan norma, terkait pula dengan tata kelakukan (uses). Memulai definisinya dari kumpulan sistem norma yang melembaga juga dapat dilakukan karena sistem norma sendiri mencakup tata kelakukan dan sikap.

Pendapat Parsons tentang perubahan dari sesuatu yang subjektif ke objektif sangat membantu kita memahaminya. Apa yang kita anggap baik dan buruk pada awalnya bisa sangat subjektif. Tergantung pada individunya.

Namun setelah melembaga, menjadi objektif. Apa yang baik dan buruk terinstitusionalisasi.

Sebagai contoh, tinggal serumah dengan pasangan tanpa pernikahan atau kohabitasi, jika ditanyakan secara pribadi pada individu di berbagai negara nilainya bisa beda. Tetapi coba bawa pertanyaan itu ke lembaga sosial keagamaan seperti MUI, maka sudah jelas jawabannya.