“Part-time Student, Full-time Traveler”: Akibat Fotokopian Artikel Harriet Martineau

20150828_120924

Kalau nggak salah di minggu ketiga kelas Sosiologi Klasik, Professor Lars datang sambil membawa fotokopian materi sebagai bahan bacaan mahasiswa untuk sisa beberapa pertemuan ke depan. Diantara fotokopian itu, ada tulisan Harriet Martineau, yang aku ingat adalah salah seorang sosiolog wanita yang hidup pada abad 19. Ia pernah menerjemahkan karya bapak sosiologi Auguste Comte yang berjilid-jilid itu berjudul “Cours de Philosophie Positive”, dari bahasa Perancis ke bahasa Inggris. Tulisan Martineau pada fotokopian itu berjudul “Society in America”.

Bagi mereka yang sudah pernah baca buku itu, atau minimal fotokopiannya, boleh saja menganggap Martineau sebagai seorang liberal. Karena disitu, ia mengekspresikan gagasan-gagasannya mengenai kebebasan lewat cerita ala penulis perjalanan yang melihat pola pikir dan perilaku orang-orang asing yang ditemuinya. Kebetulan di Amerika, konstitusinya mengatakan kesamaan hak dan perlakukan setara terhadap setiap orang yang harus dijunjung tinggi. Tidak peduli kelas sosial dan gender, semua manusia setara nilainya. Namun seperti yang terjadi di kebanyakan negara, realita tidak pernah menampakkan wajahnya seperti yang diidealkan hukum. Diskriminasi tetap eksis dimana-mana. Dengan mempelajari dokumen resmi pemerintah, kemudian melihat dengan mata kepala apa yang terjadi di sekitar, Mantineau mampu menceritakan hampir semua kesenjangan sosial yang terjadi di Amerika. Buku itu ditulis dalam rangka kunjungannya selama dua tahun di Amerika, bukan sebagai mahasiswa atau turis, tapi sebagai traveler.

Beberapa hari lalu, seorang alumni dari sebuah universitas ternama di Skandinavia membeberkan sebuah rahasia padaku. Ini bukan rahasia serius yang harus dijaga, tapi pendapat iseng yang menurutku perlu untuk diposting di sini. Katanya, kuliah di Skandinavia seperti menjadi “Part-time Student dan Full-time Traveler”. Tidak terlalu padat tugas, tapi banyak, tapi banyak pula waktu untuk mengerjakan. Musuh paling utama hanyalah melepaskan diri dari kebiasaan ngerjain tugas mepet deadline.

Di bulan kedua keberadaanku di tanah Viking ini, tak ada yang membuatku penasaran selain membuktikan anggapan itu. Minggu ini adalah waktunya. Dua minggu yang lalu, dedikasi telah aku berikan pada dua paper yang harus kuselesaikan: Ringkasan disertasi Ph.D Emile Durkheim dan Study Plan. Minggu ini sama sekali tidak ada jadwal kelas, dan bulan depan, deadline tugas terakhir. Di sela-sela deadline itu, aku teringat Martineau. Sepertinya ia membisik padaku, menyuruhku untuk mulai mempelajari “das sollen / apa yang seharusnya” biar mengerti apa yang dilakukan masyarakat di sini, kemudian membenturkannya dengan “das sein / kenyataan” atas apa yang benar-benar terjadi. Dokumen dan observasi menjadi metode perpaduan untuk mempraktikkan secuil dari apa yang pernah dilakukan Martineau. Sebagai mahasiswa yang seharusnya menjadi mahasiswa, aku akan berjalan sambil menggendong tas carrier di punggung untuk mengamati orang-orang di sini. Tapi tampaknya tidak hanya dalam batas teritori negara ini, melainkan lintas negara di sekitaran laut Baltik.

Hari Selasa, 20 Oktober, kapal cruise Rusia Princess Anastacia akan membawaku mengarung laut Baltik sambil mampir ke tiga kota; Tallin, Helsinki, dan St. Petersburg. Perjalanan akan berlangsung total selama empat hari. Aku berniat melakukan perjalanan dalam rangka mempelajari watak dan perilaku orang-orang. Semoga mendapat cerita tentang kehidupan sosial meski hanya sekilas. Martineau, maukah jadi tour guide-ku?

Stockholm, 19 Oktober 2015