‘Ngobrol’ Kapitalisme bareng Weber dan Marx

Mari kita sepakat terlebih dahulu bahwa Max Weber dan Karl Marx adalah dua ‘raksasa’ dibidang ilmu sosial. Keduanya mewarisi teori-teori ilmu sosial yang mempengaruhi pemikiran kaum intelektual, bahkan sampai hari ini. Hasil karyanya bagaikan hantu yang berkentayangan di kampus-kampus. Tulisan-tulisannya sering dikutip oleh kaum intelektual, terutama kalangan sosiolog yang mengklaim keduanya sebagai founding fathers disiplinnya. Selain itu, kata-katanya juga sering dijadikan amunisi untuk beradu argumentasi. Bahkan bagi sebagian orang, Max Weber dan Karl Marx tak sekadar ilmuwan sosial, mereka juga disejajarkan dengan para Nabi.

Baca juga Karl Marx: Nabi Kaum Proletar



Namun demikian, Marx dan Weber dianggap memiliki alur pemikiran yang berbeda, bahkan seringkali bertentangan. Keduanya berada dalam skema pemikiran ilmu sosial yang berbeda satu sama lain. Sekalipun banyak pula persamaan diantara keduanya. Tradisi intelektual Marx dan Weber banyak dipengaruhi oleh apa yang disebut oleh Alan S Kahan (2012) sebagai pemikiran periode ‘bulan madu’ antara intelektual dan kapitalisme. Max Weber, dalam pandangannya tentang kapitalisme banyak mengkritisi penulis Das Kapital.definisi kapitalisme Max Weber dan Karl Marx

Bagaimana definisi kapitalisme Max Weber dan Karl Marx?

Kapitalisme adalah ‘monster’ yang menjadi sentral kajian analisis keduanya. Weber mulai mendapat pamor ketika ‘The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism’ populer dikalangan publik. Karyanya yang membahas kaitan antara agama dan kapitalisme itu segera menjadi masterpiece. Karl Marx sudah terkenal sebelumnya ketika Das Kapital mulai dianggap sebagai kitab sucinya kaum revolusioner, yaitu sejak abad 19. Namun Weber tidak sependapat dengan Marx pada banyak hal, tidak hanya soal agama tetapi juga kapitalisme itu sendiri.

Baca juga Max Weber: “Arsitek” Ilmu Sosial Modern



Tidak seperti Marx, pendangan Weber terhadap kapitalisme boleh dibilang cukup pesimistik. Mungkin karena Weber tidak menyisakan ruang refleksi bagi upaya revolusi. Namun demikian kritik Weber atas Marx dianggap lumrah sebagaimana kritik terhadap intelektual lainnya yang dianggap gagal membuat prediksi. Weber tidak percaya bahwa kapitalisme dapat dikalahkan oleh revolusi. Bagi Weber, sistem kapitalisme memiliki tipikal lebih rasional jika dibandingkan sistem sebelumnya yakni feodalisme. Namun demikian, sebagaimana Karl Marx, Weber mengutuk sistem kapitalisme yang ternyata eksploitatif dan menyingkirkan nilai-nilai kemanusiaan. Menurut Weber, sistem pasar yang lahir dari rahim kapitalisme seringkali lebih tidak manusiawi. Weber menyebutnya “the battle of man with man”, perang manusia melawan manusia!

Baca juga: Tokoh Sosiologi Klasik