Mobilitas Penduduk: Pengertian, Faktor & Dampak

Mobilitas penduduk merupakan perpindahan penduduk secara geografis. Perpindahan ini bisa bersifat permanen atau semi-permanen.

Mobilitas permanen artinya penduduk berpindah dari suatu wilayah ke wilayah lain untuk menetap. Mobilitas semi-permanen artinya penduduk hanya singgah sementara untuk melakukan mobilitas kembali.

Perpindahan manusia secara teritorial bisa berada dalam wilayah domestik, bisa juga internasional. Perpindahan penduduk dalam wilayah domestik disebut migrasi internal. Perpindahan antarnegara disebut migrasi internasional.

Berbagai macam jenis mobilitas penduduk kita kenal dalam kajian akademik. Artikel ini akan mengulas pengertian, faktor serta dampaknya secara singkat.

Dinamika Sosial: Pengertian & Contohnya

Pengertian mobilitas penduduk

Mobilitas penduduk adalah relokasi manusia dari satu lokasi ke lokasi lain. Perpindahan ini berada dalam wilayah teritorial yang bisa bersifat domestik atau pun internasional sebagaimana yang sudah kita singgung di atas.

Perpindahan penduduk tidak terjadi tanpa konsekuensi. Beberapa konsekuansi yang muncul diantaranya pertumbuhan ekonomi, kemiskinan, kepadatan penduduk dan kriminalitas.

Berdasarkan motifnya, perpindahan penduduk dapat dibedakan ke dalam tiga jenis, yaitu mobilitas terpaksa (forced migration), mobilitas ragu-ragu (reluctant migration), dan mobilitas sukarela (voluntary migration)

Forced migration merupakan bentuk paling buruk dari perpindahan penduduk. Misalnya, peperangan yang terjadi di Syria memaksa sebagian penduduknya untuk mencari tempat berlindung ke negara tentangganya, Turki. Perbersihan etnis memaksa penduduk setempat untuk mencari tempat perlindungan ke negara lain.

Reluctant migration merupakan perpindahan penduduk dengan motif moderat. Tidak ada pilihan lain untuk pindah tempat. Hal ini diambil atas dasar kondisi yang tidak kondusif untuk tinggal, tetapi juga tidak terpaksa atau dipaksa untuk pindah. Misalnya, kebijakan transmigrasi, kondisi bencana alam di daerah asal, perubahan iklim, dan sebagainya yang membuat relokasi menjadi pilihan yang harus diambil.

Voluntary migration merupakan bentuk perpindahan penduduk yang lebih positif. Para ekpatriat yang menetap di negara tempatnya bekerja, dengan sukarela pindah tempat tinggal, bahkan kewarganegaraan. Faktor ekonomi yang lebih menggiurkan biasanya menjadi daya tarik orang untuk sukarela pindah wilayah atau negara.

Faktor mobilitas penduduk

Bila merujuk pada ketiga jenis perbedaan perpindahan penduduk di atas, beberapa faktor yang bisa kita tarik di sini bermacam-macam. Tetapi secara umum, kita bisa bedakan antara faktor penarik dan pendorong.

Faktor penarik, diantaranya: ekonomi, kenyamanan, kesehatan, keamanan yang menarik orang untuk berpindah.

Misalnya, seorang mahasiswa yang mendapat beasiswa ke luar negeri. Ia melihat masa depannya suram bila kembali ke negaranya, maka berusaha internship di negara tempatnya studi sampai mendapat kerja di sana. Faktor ekonomi menjadi penarik. Gaji lebih besar, hidup lebih sejahtera membuatnya melakukan migrasi.

Faktor pendorong, diantaranya: peperangan, kemiskinan, bencana alam yang mendorong orang untuk berpindah.

Misalnya, konflik Poso beberapa tahun lalu, mendorong sebagian orang untuk mencari tempat aman. Pindah kota menjadi pilihan demi keselamatan diri dan keluarganya. Resiko bencana alam yang besar juga membuat orang memilih menjual rumahnya untuk tinggal di tempat lain dengan rumah yang lebih kecil tapi kecil resiko bencana.

Dampak mobilitas penduduk

Sekilas kita sudah singgung dampaknya. Ada beberapa yang bisa saya paparkan di sini, diantaranya pertumbuhan ekonomi, ketimpangan dan kepadatan penduduk. Di luar itu tentu masih banyak lagi. Mari kita lihat contohnya, yaitu ibu kota.

Baca juga: Dampak Perubahan Sosial

Banyak orang migrasi ke jakarta secara permanen atau pun sementara untuk cari uang. Jakarta menjadi kota metropolitan karena ekonomi melaju relatif pesat jika dibandingkan kota lain di Indonesia. Ekonomi bertumbuh karena orang desa pergi ke Jakarta untuk bekerja cari uang dan cari makan.

Dampak yang lain tentu saja ketimpangan sosial. Gap antara mereka yang kaya dan yang miskin semakin menjulang dan mecolok. Kita lihat potretnya, dibawah apartemen bertingkat dan gedung percakar langit, terdapat pemukiman kumuh. Ketimpangan begitu mencolok.

Kepadatan penduduk juga tidak bisa dihindari. Urbanisasi membuat konsentrasi penduduk ada di kota. Kota menjadi padat. Kepadatan yang tidak terkontrol bisa menimbulkan masalah-maslaah sosial lainnya.