Mitos Menulis

mitos menulisTerkadang menulis dapat membebaskan pikiran dari belenggu kejenuhan. Namun terkadang pula menulis justru menambah pikiran makin ruwet. Belakangan ini saya banyak menghabiskan waktu untuk menulis. Menulis apapun, tanpa target dan tuntutan. Sesungguhnya, menulis dapat membuat saya untuk berpikir, bahkan memaksa saya untuk berpikir. Apalagi ketika stok kata-kata yang ada di kepala saya melimpah ruah. Begitu pula sebaliknya, kehabisan stok kata-kata ditengah asyiknya jemari menari di atas keyboard juga menjadi hal yang lumrah.

Saya bukan penulis yang pandai memainkan kata-kata. Atau membumbui satu kata dengan kata lain untuk menggugah emosi orang yang membacanya. Seringkali tulisan saya datar dan sempit makna. Seringkali saya terjebak pada penulisan bergaya akademik yang kaku. Meskipun sebenarnya saya ingin lebih banyak bermain dengan kata-kata agar mampu menciptakan kesan emosional dengan pembaca. Namun sulit rasanya melakukan itu semua. Bagaimanapun saya banyak melahap buku-buku akademik dengan beragam gaya bahasa, bahkan buku-buku yang paling sulit dimengerti sekalipun. Hal ini merupakan tuntutan saya selama berada di kampus.

Asupan kata-kata sekaligus bahasa yang merasuki kepala saya tentu lebih banyak bergaya akademik. Terkadang saya berpikir ini konsekuensi, terkadang pula saya merasakan ini jebakan. Ingin sekali keluar dari belenggu macam ini, membebaskan diri dari standar baku penulisan dan mencurahkan kata-kata sekehendak hati. Ditengah proses penulisan, tak jarang saya berhenti cukup lama hanya untuk memikirkan ketepatan pilihan kata. Bagaikan merenungi kehampaan yang hanya menghabiskan waktu tanpa hasil. Saat aku berpikir bahwa menulis bukanlah pekerjaan mudah, maka pikiranku ketika menulis segera menemui jalan buntu.

Belakangan ini saya rela menghabiskan banyak waktu untuk mengulas sekilas tulisan-tulisan para penulis hebat. Saya mempelajari gaya bahasanya, memahami detail pilihan kata yang digunakannya, dan bahkan latar belakang penulisnya. Kebanyakan dari mereka mengaku belajar menulis secara otodidak. Namun yang paling menyakitkan hati adalah adanya mitos tentang menulis. Talenta menulis konon merupakan bakat alami yang memang diberikan Tuhan hanya pada sebagian orang. Sebuah pernyataan yang membuat saya mengernyitkan dahi. Temuan-temuan yang tidak memungkinkan saya untuk mengembangkan kemampuan menulis tentu saja saya tolak. Siapa yang bisa menahan gejolak pikiran yang gelisah?