Apa Itu Meritokrasi? Pengertian & Contohnya

Meritokrasi dapat dimaknai sebagai tipe tatanan sosial dimana penghargaan, kekuasaan, otoritas dan posisi sosial diberikan kepada individu-individu yang memiliki keahlian, talenta dan pengetahuan yang dimilikinya.

Keahlian, talenta dan pengetahuan tersebut diperoleh melalui proses pendidikan dalam hidup. Jadi, bukan bawaan bayi atau keturunan. Hasil dari proses pendidikan yang baik itu disebut merit.

Meritokrasi artinya kekuasaan diberikan kepada mereka yang merit. Kita ulas dalam artikel ini definisi mengenai meritokrasi. Versi ringkasnya sudah kita singgung di awal, tetapi kita perlu uraikan lebih detail agar pengetahuan kita tentang meritokrasi tidak secuil.

Definisi meritokrasi dan contohnya

Coba kamu pikirkan makna istilah demokrasi. Suatu tatanan sosial dan politik dimana kekuasaan atau otoritas berada di tangan orang-orang. Orang-orang inilah yang disebut rakyat.

Demokrasi: Pengertian & Sejarah Singkat

Meritokrasi juga suatu tatanan sosial dan politik dimana kekuasaan atau otoritas diberikan kepada mereka yang punya keahlian, pengetahuan dan talenta. Ketiganya disebut merit. Meritokrasi dapat dipahami sebagai suatu kondisi dimana “orang yang tepat berada di tempat yang tepat”.

Semoga kamu pernah mendengar jargon “the right man in the right place”. Itu bukan sekadar jargon. Itulah meritokrasi.

Jika dipahami dari definisinya, maka tatanan sosial ini memberi kesempatan yang sama pada tiap inividu untuk mendapatkan sesuai dengan apa yang mereka lakukan. Penghargaan yang kita peroleh tergantung pada apa yang kita lakukan. Tidak tergantung pada anak siapa kita.

Bayangkan kamu berada di sebuah kapal yang melakukan perjalanan. Maka individu yang layak memimpin perjalanan adalah mereka yang paling tau soal navigasi dan bagaimana menahkodai kapal. Individu itu adalah nahkoda. Bukan turis atau penumpang yang plonga-plongo.

Kita beri tempat kepada mereka yang ahli, kita beri tempat sebagai nahkoda. Siapa yang layak menjadi kepala desa adalah orang yang tau kondisi desanya, kebutuhan masyarakatnya, dan punya keahlian, pengetahuan, talenta tentang bagaimana mengurus desa. Bukan orang yang plonga-plongo senyam-senyum terus tidur.

Begitulah tipe tatanan sosial tersebut bekerja.

Sering kali apa yang kita sebut sebagai keahlian, kemampuan, pengetahuan, talenta dan seterusnya, diukur dengan suatu bukti objektif yang dapat diterima orang-orang.

Pada akhirnya, elemen-elemen itu direpresentasikan oleh sertifikat atau ijasah. Mereka yang tau mesin perkapalan punya sertifikat tentang mesin perkapalan. Mereka yang tau politik pernah sekolah atau kuliah, punya pengalaman kepemimpinan. Tentu saja dibuktikan dengan ijasah atau bukti objektif lainnya.

Baca juga: Pengertian Ilmu Pengetahuan

Seorang peneliti namanya Young, pada 1958 pernah mengeluarkan formula tentang sistem tatanan sosial ini, yaitu sebagai berikut: M = I + E.

M = Merit

I = Intelegensia (IQ)

E = Effort (usaha)

Jadi, merit menurutnya adalah hasil dari kemampuan berpikir dan usaha. Kita lihat rumus klasik tersebut menyiratkan peluang yang sama pada individu untuk mendapatkan penghargaan yang layak, selama ia menggunakan pikirannya dan berusaha.

Tidak jadi soal anak siapa kamu, selama kamu berprestasi dan belajar di sekolah, maka kamu yang berhak mendapat rangking tinggi.

Tatanan sosial ini tampak sebagai suatu tatanan yang ideal. Bagi mereka yang mendapatkan privelese sosial karena keturunan tentu saja tidak ideal. Tetapi tatanan sosial ini pada kenyataanya tidak selalu bekerja sebagaimana mestinya.

Pernahkan kamu melihat suatu wilayah dimana pemimpinnya tidak kompeten? Mungkin di wilayah kamu sendiri. Tidak apa-apa karena dalam banyak kisah sejarah, kita sering mendengar raja dengan karakteristik iblis, padahal di masa yang sama ada orang suci yang menjadi pahlawan. Kenapa tidak orang sucinya itu saja yang menjadi raja?

Prestasi yang kamu peroleh di sekolah atau tempat kerja, belum tentu membuat kamu mulus naik peringkat atau naik gaji. Kadang mereka yang pandai menjilatlah yang mendapat tempat. Itulah realita yang sering nampak.

Perlu dicatat sebelum diakhiri di sini bahwa meritokrasi menentukan nasib seseorang berdasarkan intelektualitas, bukan garis tangan.