Laku Prihatin

Laku prihatin menjadi frase multimakna ditengah dinamika kehidupan masyarakat kita. Prinsip atau takdir yang harus dijalani?

“Saiki konco kontrakanku ono sing dodol bolang-baling. Mesti saben bali dodolan ono turahane, cah-cah kontrakan koyo aku yo iso mangan. Dadi paling ora kan aku ora mati, ha’a si?”

“Sekarang teman kontrakanku ada ya g jual kue bantal. Pasti tiap selesai jualan ada sisanya. Temen kontrakan seperti aku ya bisa makan. Jadi paling tidak saya ngga mati kelaparan kan?”

Itu salah satu pernyataan menggelikan yang pernah aku dengar. Namun, sekaligus membuat sedih perasaan ini. Kasihan, gelisah dan tak tega ketika mendengarnya. Begitulah kondisi salah satu sahabatku ketika kutemui di Semarang, tempatnya merantau kuliah. Kenyataan hidup ini memang kadang berwajah kejam, keras, penuh persaingan dan tak kenal ampun.

Baca juga Rekoso: Cara Pandang atau Jalan Hidup?



Impian yang sedang aku kejar sampai langit seolah menarikku kembali turun ke bumi. Tidak sedikit sahabatku yang berada dalam kondisi demikian. Bila menengok ke cermin, rasanya diri ini belum mampu berbuat banyak. Tapi aku malu pada diriku sendiri yang tak bisa menjawab “bisa bantu apa?”

Sebagian orang menjalani hidup dengan prinsip laku prihatin. Tapi sahabatku ini tidak, sebab, istilah laku prihatin tak pernah dikatakannya, tak pernah dipikirkannya dan itu bukan pilihannya. Namun, realitaslah yang mengatakan demikian atau jika boleh dikata, realitaslah yang memaksanya demikian. Terdengar kejam sekaligus menyalahkan pihak lain memang. Tapi justru disitulah makna bahwa hidup sesungguhnya adalah perjuangan.

Aku mengunjunginya di Semarang beberapa pekan lalu. Setiap makan bersama, kami mengobrol, tentang masa lalu dan masa depan. Tampaknya, masa lalu lebih membanggakan baginya. Masa lalu roman, masa depan suram. Aku berpikir rasional dan mengatakan, ya karena masa depan belum pernah terjadi dan tak kan pernah terjadi, istilahnya… tomorrow never comes.

Sudah lumrah dalam kehidupan sehari-hari sebuah ungkapan bahwa makin dewasa, waktu terasa semakin cepat. Sesungguhnya, ada yang lebih penting ketimbang memikirkan hal itu, yakni bekerja, berbuat dan beramal. Individu boleh kehabisan waktu, lalu mati dimakan usia. Tapi manusia, dengan bekerja, akan terus menuai hasilnya. Akhirnya, lumayan tentram diri ini meninggalkan Semarang, membawa potret sebuah kehidupan yang berprinsip laku prihatin.