IPA atau IPS? Panduan Praktis Memilih Jurusan

IPA atau IPS adalah dilema lumrah bagi mereka masih SMA atau sederajat. Kalau kamu bertanya pada orang-orang yang sudah lewat fase ini, sangat mungkin mereka akan memberi nasehat yang bijak. Salah satu nasehat yang populer adalah, penjurusan itu adalah jebakan.

Untuk memilih jurusan IPA atau IPS, kamu pelu pijakan berpikir yang jernih. Dasar pertimbangannya adalah bahwa diantaranya keduanya tidak ada yang lebih superior ketimbang yang lain. Artikel yang menyatakan sebaiknya memilih jurusan IPA atau sebaiknya memilih jurusan IPS biasanya berisi mitos bahwa salah satu lebih unggul dibanding yang lain.

Jurusan IPS: Prospek dan Peluang Kerja

Tulisan ini adalah ajakan untuk mempertimbangkan memilih jurusan IPA atau IPS dengan pijakan yang tak menyesatkan. Berpikir secara fair di awal, bahwa keduanya bukan kompetitor melainkan komplementer. Artinya keduanya saling melengkapi sebagai ‘genre’ ilmu pengetahuan.

Jadi IPA atau IPS?

Kalau kamu memilih jurusan IPS, apakah kamu bisa memastikan bahwa pilihan itu diambil atas dasar kebebasan dan preferensi akumulasi pengetahuanmu di masa depan?

Jika kamu memilih jurusan IPA, apakah kamu bisa memastikan bahwa pilihan itu diambil atas dasar minat pengembangan ilmu pengetahuan di masa depan?

Sering kali alasan yang diwariskan oleh generasi sebelumnya adalah untuk mendapatkan kerja di masa depan. Di sinilah letak kesesatannya. Di sinilah mengapa ilmu pengetahuan tidak berkembang. Di sinilah mengapa orang belajar seperti berdagang. Di sinilah mengapa otak didikte perut.

Ketika kamu sejenak mampu mengabaikan peluang kerja di masa depan, mengabaikan orientasi dagang, dan mengabaikan urusan perut, maka kamu bisa berpikir lebih jernih untuk memilih jurusan IPA atau IPS.

Bagaimana dengan persoalan administrasi? Misalnya, banyak kampus hanya menerima lulusan IPA ketimbang IPS. Itulah kesesatan berpikir yang memangsamu.

IPS lebih santai, kratif dan menyenangkan? Ini juga mitos yang diglorifikasi tanpa rasa bersalah sehingga membenarkan anak yang malas belajar.

Ketahuilah, kedua jurusan itu akan membisu dihadapan kesuksesan yang diperoleh dari pengalaman hidupmu. Di rezim meritokrasi, dimana keberhasilan ditentukan oleh kemampuan dan pengetahuan, maka darimana kamu berasal tidak lebih penting ketimbang apa kontribusi yang bisa kamu berikan.

Celakanya diam-diam orang lebih suka hidup dalam rezim feodal ketimbang meritokrasi sehingga mitos-mitos tradisional yang diwariskan oleh orang tua masih didengarkan. Akibatnya anak muda yang sedang bingung memilih jurusan memperpanjang kesesatan masa lalu.

Jujur saja, sampai sekarang mitos yang bertahan adalah jurusan IPA berada di atas jurusan IPS. Banyak siswa masuk IPS karena tidak diterima di IPA. Banyak anggota OSIS adalah anak IPA. Orang bilang itu kenyataan. Namun, bagi orang yang selalu berpikir perubahan, kenyataan yang keliru harus dibongkar, diluruskan, bukan malah dilanggengkan.

Oleh karena itu, jurusan apapun yang kamu ambil harus mampu membongkar fakta-fakta yang menyesatkan. Apa yang faktual belum tentu sebuah kebenaran. Mitos itu bisa saja berjubah kenyataan. Tetapi tetap saja mitos. Saya menggunakan istilah mitos di sini untuk menunjukkan banyaknya opini berbasis asumsi yang mengatakan seolah-olah jurusan IPA lebih baik dari IPS atau sebaliknya.

IPA atau IPS? Baru bisa kamu jawab ketika kamu sudah selesai belajar dengan tekun di salah satu atau keduanya, atau bahkan jurusan lain seperti Bahasa. Untuk saat ini, tidak terlalu mendesak untuk mengklaim yang satu lebih unggul ketimbang yang lain ketika kamu masih berada di dalamnya.

Jurusan Kuliah IPS: Daftar Lengkap

Jika kamu belum lulus dari jurusan yang kamu pilih, maka kamu belum punya kapasitas untuk menjustifikasi. Kalau pun kamu sudah lulus dan khatam belajar, maka kebijaksanaan yang akan kamu dapat.

Bijaksana disini artinya secara kritis dan adil memberi penilaian dan pemaknaan. Bijaksana juga berarti melihat IPA atau IPS bukan lagi sebatas jurusan selama di sekolah namun pilihan ilmu pengetahuan yang bermakna bagi hidupmu. Pilihlah dari sudut pandang kebijaksanaan.