Hipotesis Statistik: Pengertian dan Contohnya

Hipotesis statistik dapat dipahami dalam dua pengertian, yaitu prediksi dan penjelasan sementara. Hipotesis ini digunakan dalam penelitian kuantitatif dengan analisis statistik.

Penelitian kuantitatif mensyaratkan adanya hipotesis. Hipotesis ini akan diuji kebenarannya dalam proses penelitian. Inilah yang disebut dengan hipotesis statistik.

Untuk memahami definisinya, kita boleh menyertakan pengertian tenang hipotesisi penelitian. Hipotesis penelitian merupakan hipotesis yang sudah terbukti. Jadi, bukan lagi bersifat sementara. Namun demikian, hipotesis penelitian bisa dibantah ketika realitas sosial tidak menunjukkan bahwa hipotesis itu masih relevan.

Untuk memahami apa itu hipotesis statistik, kita langsung ulas pengertiannya secara singkat. Sekalian saya paparkan contohnya dalam bagian ini agar pembaca bisa menyerap apa yang saya maksud.

Pengertian hipotesis statistik beserta contohnya

Hipotesis statistik adalah suatu prediksi atau penjelasan sementara tentang fenomena sosial yang melibatkan hubungan antara dua variabel atau lebih.

Baca juga: Pengertian Variabel Penelitian

Sebagai prediksi, hipotesis ini memberi gambaran tentang fenomena sosial ke depan. Namun sekali lagi perlu dicatat bahwa gambaran tersebut belum tentu benar karena masih perlu diuji dengan penelitian.

Sebagai penjelasan sementara, hipotesis ini memuat adanya korelasi atau tidak antara dua atau lebih variabel, atau memberikan penjelasan mengenai sebab akibat antara dua atau lebih variabel.

Mari kita langsung menyimak contohnya. Anggap saja kamu mau penelitian tentang meningkatnya obesitas dikalangan anak-anak muda. Itu suatu topik yang menarik dan penuh permasalahan.

Gendut bisa menyebabkan bullying dan kematian. Tetapi kamu pembelajar ilmu sosial bukan kedokteran, maka kamu mau membuat desain penelitian sosial untuk topik ini.

Kamu penasaran, mengapa obesitas terlihat dimana-mana? Padahal stereotype terhadap orang gendut sangat buruk. Artinya, anak muda jadi gendut bukan karena pilihan untuk bergaya, namun akibat dari gaya hidup. Itu dugaan saja.

Untuk memuaskan rasa penasaran, kamu mempelajari secara serius dan melakukan penelitian. Ketika menulis proposal, kamu menyusun hipotesis.

Hipotesisnya adalah “obesistas menular karena pertemanan”. Secara lebih detail, kamu menguraikan hipotesis sebagai berikut “memiliki teman yang gendut, bisa membuatmu ikut gendut”. Argumennya adalah konsumsi makanan junk food dilakukan karena bagian dari proses pergaulan.

Kamu punya teman gendut. Gendut karena hobi makan junk food. Setiap keluar jalan, mampir makan di restoran fast food, makan di situ bersama teman-teman. Kamu adalah teman mereka yang belum obesitas. Tapi lama kelamaan kamu gendut juga karena makan bersama mereka di restoran fast food. Itulah proses bagaimana variabel pergaulan dengan teman yang obesitas bisa menyebabkan obesitas.

Ingat kembali, itu adalah hipotesis statistik. Artinya perlu diuji melalui proses penelitian. Kamu bisa saja menemukan informan yang mau menceritakan pertumbuhan berat badannya secara signifikan. Barang kali jawabannya adalah karena konsumsi junk foodnya bertambah.

Hipotesis statistik bisa didesain dalam dua bentuk. Pertama, dengan logika “jika…, maka…”. Kedua dengan logika sebab-akibat.

“Jika bergaul dengan teman yang obesitas, maka berat badan kamu akan naik”. Logika hipotesis ini bersifat korelasional. Artinya melihat apakah ada korelasi antara variabel bergaul dengan teman gendut, dengan variabel naiknya berat badan.

Baca juga: Penelitian Korelasional

“Memiliki banyak teman obesitas menyebabkan naiknya berat badan”. Hipotesis ini menggunakan logika sebab-akibat. Dalam penelitian statistik disebut penelitian kausalitas. Artinya mencari hubungan sebab-akibat antara dua variabel atau lebih.

Kembali di awal, kamu sedang merencanakan sebuah penelitian. Kamu menyusun hipotesis. Keputusannya tergantung padamu, apakah akan melakukan penelitian korelasional atau kausalitas. Keduanya memerlukan hipotesis statistik.