FinTech: Transformasi Digital di Sektor Finansial

FinTech, akronim dari Financial Technology (Teknologi Finansial) sedang populer dalam beberapa tahun terakhir. Merespons perkembangan fintech khususnya di Indonesia, saya akan ulas beberapa contoh startup teknologi finansial di Indonesia. Namun sebelumnya, saya akan tulis tentang apa itu fintech merujuk pada buku berjudul ”The Future of FinTech: Integrating Finance and Technology in Financial Services” (2017), karya pengamat sosial dan finansial Bernardo Nicoletti. Di akhir tulisan, saya akan beri pandangan pribadi mengenai implikasi sosial dari munculnya tren teknologi finansial di Indonesia.

fintechMeskipun bila ditilik secara terminologis, fintech merupakan perpaduan antara istilah teknologi dan finansial, tidak ada definisi tunggal yang secara baku menggambarkan tentang apa itu fintech. Istilah fintech dikenal di berbagai area tak terbatas finansial dan teknologi. Dikalangan ilmuwan sosial, financial technology tidak diartikan sebatas invasi teknologi digital di sektor finansial, namun juga meliputi struktur relasi sosial yang dibangun diatas platform untuk menunjang aktivitas terkait finansial. Sangat mungkin bagi kita untuk memahami teknologi finansial melalui beberapa definisi yang pernah dipaparkan.

Baca juga Sosiologi Ekonomi


Apa itu FinTech?

Dua area utama perlu digarisbawahi dahulu untuk mendefinisikan financial technology, yaitu layanan finansial dan solusi finansial berbasis teknologi digital.

Contoh kongrit teknologi finansial itu sendiri sangat bervariasi. Kita bisa menyebut software yang digunakan untuk transaksi keuangan sebagai fintech. Namun, kita juga bisa menyebut perusahaan atau strartup yang menyediakan layanan banking atau asuransi, misalnya, sebagai fintech.

Kamus Oxford mendefinisikan financial technology sebagai “program computer dan teknologi lain yang digunakan untuk mendukung  banking dan layanan finansial”. Definisi tersebut menunjukkan bahwa financial technology meliputi area yang luas.

Bernardo Nicoletti menuliskan dua poin utama untuk memahami pengertian fintech:

  • Pertama, penting untuk diketahui bahwa financial technology sebagai sebuah ekosistem tidak hanya terdiri dari perusahaan startup. Istilah fintech memang sering dihubungkan dengan sturtup karena penggunanaan mereka terhadap sofware digital untuk layanan finansial yang merupakan tren modern. Namun, tidak sedikit perusahaan lama yang melakukan transformasi bisnis dengan menyediakan layanan finansial berbasis digital.
  • Kedua, ruang lingkup definisi financial technology perlu dijelaskan secara detail. Fintech bisa dilihat sebagai model bisnis. Sebagai model, kita bisa memahami mengapa sebagian unit bisnis financial technology sukses sebagian yang lain gagal. Perlu dicatat bahwa solusi keuangan berbasis teknologi finansial sangatlah kompleks karena beberapa stakeholder memiliki kepentingannya masing-masing.

Financial technology sebagai sebuah inisiatif baik di startup atau pun perusahaan mapan berupaya menghubungkan investor dan peminjam, debitur dan kreditur melalui platform digital. Dalam dunia financial technology dikenal istilah peer-to-peer lending yang menghubungkan pihak yang butuh pinjaman dan yang mau meminjamkan. Lebih luas, fintech juga meliputi kemampuan platform digital untuk memfasilitasi transaksi keuangan. Implikasi sosial yang populer dari kehadiran fintech sebagai teknologi tentu saja menggantikan peran manusia dalam proses transaksi. Bagaimana perkembangan financial technology dari kacamata historis?

Sejarah perkembangan fintech

Fintech adalah fenomena modern. Menurut Nicoletti, garis sejarah kemunculannya bisa ditarik ke abad 19 ketika pertama kali telegram ditemukan, dilanjutkan dengan penemuan kabel transatlantik pada 1866. Dua inovasi teknologi ini digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk finansial.

Bank sebagai sebuah industri merupakan salah satu institusi yang cukup awal mengadopsi sistem komputer. Transaksi finansial menggunakan komputer memangkas waktu transaksi sehingga lebih cepat.

Sudah dikenal umum bahwa salah satu inovasi terbesar teknologi finansial di bidang perbankan pada abad 20 adalah penemuan ATM (Anjungan Tunai Mandiri). ATM mencegah orang untuk pergi ke bank untuk melakukan transaksi. Dengan demikian, mesin ATM bisa disebut sebagai fintech.

Mendekati abad 21, kita melihat ada kecenderungan inovasi teknologi dari analog ke digital. Penemuan World Wide Web (www) dan eksperimen internet banking terutama di US dan UK menandai dekade ini.



Memasuki abad 21, industry finansial mengalami digitalisasi. Pada abad ini, muncul beberapa inovasi finansial yang berfungsi seperti industri finansial tradisional. Muncul kompetisi antara sturtup dan industri finansial tradisional. Perusahaan yang telah mapan sebelumnya seperti bank dan asuransi mulai berkompetisi dengan menjamurnya startup teknologi finansial.

Penting untuk diperhatikan adanya tiga fase historis yang menandai transformasi teknologi di sektor finansial.

  • Pertama, sekitar tahun 1866-1967 industri layanan finansial mengadopsi teknologi analog.
  • Kedua, sekitar tahun 1967-1987 mulai terjadi peralihan dari teknologi analog ke digital, setidaknya di negara maju. Proses digitalisasi berlangsung sampai sekitar 2008.
  • Ketiga, babak baru perkembangan teknologi layanan finansial terjadi, yaitu munculnya beberapa startup yang menyediakan layanan finansial, bahkan secara langsung mampu menghubungkan antara pebisnis dan konsumen, antara pemilik modal dan peminjam, antara mereka yang butuh duit dan investor. Layananan ini tentu mengancam keberadaan bank yang menyediakan layanan sama, namun dengan cara yang lama. Bank mulai mengadopsi layanan finansial berbasis teknologi digital dan mengoperasikan fintech.

Dari pemaparan di atas, bisa kita lihat bahwa teknologi finansial berkembang di negara maju kemudian menyebar ke negara lainnya, termasuk Indonesia.

Saya akan berikan beberapa contoh teknologi finansial di Indonesia sebagai gambaran kongrit untuk mempermudah pemahaman.

Beberapa contoh fintech di Indonesia

Sekali lagi, sejauh ini belum ada kesepakatan mutlak tentang apa itu teknologi finansial dikalangan para ahli. Fintech tidak hanya startup. Perusahan lama di bidang banking, telekomunikasi, asuransi, dan lain-lain melakukan beberapa transformasi layanan keuangan yang bisa disebut sebagai fintech. Perusahaan startup layanan keuangan juga bisa disebut fintech. Beberapa diantaranya yaitu?

  • TCash
  • Go-Pay
  • HaloMoney
  • CekAja
  • Amartha
  • Doku
  • Finansialku
  • Modalku
  • Bareksa
  • Midtrans
  • UangTeman
  • NgaturDuit
  • Kartoo
  • DompetSehat
  • Veryfund
  • OnlinePajak
  • Sleekr
  • Jojonomic
  • Cermati
  • Kreditgogo
  • Stockbit
  • Premiro
  • Bibitnomic
  • Indogold
  • Kanopi
  • Kredivo
  • Cicil
  • DanaBijak
  • Akulaku
  • Tunaiku
  • KreditCepat

Diluar contoh yang disebutkan di atas, tentu masih banyak lagi. Setidaknya contoh-contoh tersebut dapat menjadi indikasi menjamurnya fintech di Indonesia.


Disrupsi sektor finansial

Transformasi digital di sektor finansial melahirkan menjamurnya perusahaan dan layanan fintech. Sebagaimana yang sudah dipaparkan di awal, perusahaan finansial incumbent harus berkompetisi dengan kemunculan beberapa startup yang menyediakan jasa finansial dengan teknologi yang canggih. Perusahan incumbent mulai mengadopsi platform digital atau akan kalah bersaing dan mati.

Pendanaan yang memprioritaskan pembangunan infrastruktur digital oleh perusahaan incumbent menandai adanya kompetisi bisnis antara pemain lama dan startup. Sebagai contoh, banyak bank kini mulai mengurangi jumlah ATM dan mengalihkan pendanaan utamanya untuk layanan internet banking, mobile banking, dan platform digital yang menunjang transaksi finansial antara nasabah dan pebisnis atau investor.

Membaca tren ke depan, ada opini umum bahwa bank suatu saat akan mati. Perusahaan asuransi akan mati, perusahaan yang menyediakan layanan finansial akan mati apabila tidak segera beradaptasi. Terhadap pembacaan tren ini, Bernardo Nicoletti berkomentar:

”Bank bisa mati, tetapi banking tidak. Perusahaan asuransi bisa mati tetapi asuransi tidak.”

Memahami komentar tersebut semudah memahami bahwa wartel (warung telekomunikasi) bisa mati tetapi komunikasi tidak. Pesan implisit yang disampaikan tersebut adalah, teknologi finansial lebih relevan ditempatkan sebagai platform, ketimbang institusi atau perusahaan. Platform juga bukan semata teknologi tetapi relasi antar aktor sosial untuk melakukan transaksi finansial, difasilitasi oleh media digital.

Pergeseran dari institusi atau perusahaan ke platform membawa potensi disrupsi sektor finansial. Perusahaan incumbent terancam, implikasinya, lapangan pekerjaan di perusahaan incumbent juga terancam akibat digitalisasi.

Kehadiran fintech merupakan wujud transformasi digital di sektor finansial. Implikasi sosialnya sangat jelas, fintech menggambarkan transformasi finansial yang radikal dan disruptif khususnya dari perspektif incumbent. Fintech adalah fenomena disrupsi di sektor finansial.