Eksotisme Papua: Sebuah Catatan Perjalanan

papua eksotis (2)

Satu kata; “eksotis!”

5 November 2013, pendaratan di bandara Domine Eduard Osok, Sorong, menjadi awal penjelajahan kami di sebuah negeri yang sering dibilang melimpah kekayaan alamnya ini. Sorong terletak di Provinsi Papua Barat, jika Anda melihat peta, kota ini berada pada posisi “mata” dari “kepala burung” Papua.

papua eksotis (9)Seperti kota besar pada umumnya, Sorong juga dihuni oleh mayoritas kaum urban. Menurut sopir kami yang mengantar dari bandara menuju hotel, sekitar 90% dari penduduk Sorong merupakan pendatang. Kebanyakan dari Maluku dan Sulawesi, sebagian juga dari Jawa. Sekilas memang tampak kalau ‘keaslian Papua’ sudah agak luntur di kota ini. Tapi Sorong bukanlah tujuan akhir kami, melainkan pintu masuk menuju wilayah yang akan kami singgahi.

Sorong Selatan

Kami langsung ‘off road’ menuju Sorong bagian selatan, singgah di Sorong Selatan (Sorsel) hari itu juga. Sorsel merupakan merupakan kabupaten hasil pemekaran dari Sorong. Usianya baru 10 tahun, infrastruktur di kabupaten itu masih dikembangkan. Jalan menuju Ibukota Sorsel yang bernama Teminabuan masih dalam tahap pembangunan. Namun badan utama jalan sudah banyak yang berupa aspal, meskipun kapur dan medan berlumpur akibat genangan air di tengah jalan masih sering kali dijumpai. Perjalanan sampai ke Teminabuan memakan waktu tiga jam.

papua eksotis (8)Sebagai ibukota kabupaten, Teminabuan mengalami proses pembangunan yang relatif cepat terutama mengenai infrastruktur ekonomi dan pemerintahan. Sekilas kota ini tampak berbeda dengan Sorong, penduduk asli Papua banyak yang tinggal di sini.

Dua malam kami singgah di Teminabuan. Esoknya kami melanjutkan perjalanan ke sebuah wilayah yang ternyata menjadi sebuah gambaran yang mewakili rangkaian perjalanan kami. Eksotisme Papua, itulah kata-kata yang tersemat dalam benak kami. Sebuah gambaran yang muncul dari dua distrik yang kami kunjungi, yakni distrik Kais dan Matemani.

Akses dari Teminabuan menuju distrik Kais dan Matemani hanya bisa ditempuh lewat sungai dan kanal. Kedua distrik tersebut terisolasi dari jalur darat dominan areanya berupa rawa dan sungai. Tentu saja, ini akan menjadi sebuah perjalanan yang mengesankan.

Kami berangkat dari dermaga Teminabuan waktu subuh. Speedboat telah siap di dermaga semalam sebelumnya. Awalnya, kami ragu untuk berangkat berkat hujan badai yang menerjang wilayah Teminabuan semalam suntuk. Untung saja sesaat sebelum tiba waktu subuh, hujan berhenti. Nahkoda kami meyakinkan kondisi cuaca sudah dalam keadaan baik.

Menuju Distrik

Tepat di pagi buta, speedboat meninggalkan dermaga. Saya membuka jendela untuk melambaikan tangan sembari mengucap selamat tinggal pada Teminabuan. Petualangan dimulai. Speedboat melewati kanal-kanal yang airnya berwarna coklat dan kental. Beberapa saat kemudian kami menembus rawa yang konon katanya masih banyak buayanya. Pemandangan yang kami hanya sejauh jalur kanal yang dibatasi oleh hutan mangrove dan sagu.

papua eksotis (12)

Mangrove dan sagu memang menjadi karakter khas jalur perairan yang kami lewati. Sesaat kemudian matahari terbit menyembul dari atas hutan bakau yang lebat. Langit berwarna oranye menghiasi bagian atas mangrove.

Kanal dan rawa yang kami lalui berkelok-kelok. Ibarat jalan, bayak pula simpangan yang dijamin membuat orang awam bingung tak tau arah. Sebab berbeda dengan jalan darat, bentuk dan warna jalur kanal yang telah dilewati hampir tidak ada bedanya, apalagi namanya. Satu-satunya petunjuk yang bisa dijadikan panduan bahwa jalur kanal yang dilalui tidak salah adalah jumlah tanjung. Tentu saja, jumlah tanjung harus dihitung sejak awal perjalanan.

Ditengan perjalanan, kami menjumpai sebuah perkampungan nelayan. Rumah panggung di atas rawa menimbulkan rasa heran di benak saya, “ada ya orang yang mau tinggal disitu?”. Disekitar situ beberapa nelayan mencari ikan dengan perahu kecil yang dinamakan ketinting. Kami harus mematikan mesin speedboat ketika melintas guna mengindari terbentuknya ombak yang bisa menggulingkan ketinting jika terhantam.

papua eksotis (4)Ketika berselingan, speedboat berjalan pelan, memberi kesempatan kami untuk melambaikan tangan menyapa mereka yang berada di ketinting. Mereka membalas pula dengan lambaian tangan. Jika ketinting mulai menjauh, mesin speedboat dinyalakan kembali.

Sebuah insiden kecil kami alami ketika nahkoda kami memutuskan putar balik karena mendapati salah arah. Seperti kesasar karena salah jalan, tapi di sini bukan jalan, tidak ada orang yang bisa ditanya. Untung saja ada radar yang terpasang dibagian depan mesin. Setidaknya radar itu memberi petunjuk jalur mana yang telah dilewati sebelumnya sehingga kami bisa putar balik mengikuti arah kembali.

“Lupa jalannya?” tanya kami kepada nahkoda. “Ya, terakhir kali ke sini setahun yang lalu” katanya. Kami sedikit terkejut sambil berharap cemas. Keberuntungan datang ketika dalam perjalanan putar balik ada sebuah ketinting yang melintas pelan di tepi kanal. Dengan berteriak, nahkoda kami bertanya kemana arah menuju Kais. Orang hitam khas Papua berambut keriting itu menyahut dengan keras, tak jelas apa yang dikatakannya. Tapi gerak tangannya tampak memberi jawaban arah yang kami tanyakan.

Nahkoda kami mengikuti petunjuknya. Sambil menjalankan speedboat, ia mulai tersenyum. Tampaknya ia menemukan jalur yang setahun lalu dilaluinya. Kamipun lega berada di jalan yang benar.

Perjalanan sudah berlangsung hampir lima jam. Sebuah pemandangan yang tampak seperti pemukiman terlihat dari jauh. Speedboat kami mengurangi kecepatan karena banyak ketinting yang melintas. Pemukiman itu adalah tempat yang kami tuju. Speedboat melambat dan mulai menepi.

papua eksotis (6)Hanya dalam hitungan detik anak-anak kecil datang bergerombol dan berdiri di tepi dermaga kecil yang terbuat dari kayu. Mereka menatap speedboat kami dengan tatapan yang tajam dan tampak penuh keheranan. Perasaan saya juga diselimuti penuh keheranan, kekaguman dan sedikit rasa gugup. Anak-anak kecil itu kemudian mengambil tali untuk membantu nahkoda kami mengikatkan speedboat pada tiang pancang dermaga. Kami keluar dari speedboat. Selamat datang di pedalaman Papua!

Distrik Kais

Menjelang tengah hari kami sampai di distrik Kais. Masyarakat terutama anak-anak menyambut kami dengan hangat. Kesan menyeramkan tentang pedalaman segera luntur. Kami langsung berfoto bersama mereka. Anak-anak Papua ternyata senang sekali difoto, tapi mereka tidak narsis apalagi minta selfie. Ekspresinya ketika difoto datar dan setengah gumun. Begitu pula pace dan mace (bapak-bapak dan ibu-ibu) ketika difoto. Mereka menyambut baik kedatangan kami.

Distrik Kais hanya bisa dijangkau lewat perairan. Wilayahnya diselimuti hutan sagu yang lebat. Makanan pokok penduduk Kais tentu saja sagu yang dikenal dengan sebutan papeda. Pemerintah Papua memberi kepanjangan yang bagus untuk papeda, yakni ‘Papua penuh damai’. Oleh karena waktu sudah menunjukkan jam makan siang, kami disuguhi papeda. Bentuknya mirip bubur pati karena memang keseluruhan bahannya terbuat dari sagu.

Hujan lebat sempat turun di tanah Kais. Kondisi ini menahan kami untuk sementara waktu. Setelah terang, kami berkeliling kampung Kais. Memotret beberapa bangunan dan anak-anak yang tengah bermain. Tak ketinggalan pula proses pembuatan sagu yang dilakukan secara tradisional oleh masyarakatnya.

papua eksotis (3)Proses pembuatan sagu di sana dikenal dengan sebutan “notok sagu”. Sari batang sagu dibilas dengan air sungai kemudian di tumbuk dengan kayu. Serbukan sagu inilah yang diproses lebih lanjut sampai menjadi papeda.

Rumah masyarakat setempat terbuat dari kayu. Sebagian besar berupa rumah panggung. Tapi rumah kepala distrik yang sempat kami singgahi berbentuk mirip rumah modern. Temboknya dari semen dan batu bata, lantainya keramik. Meja kaca dan sofa juga tersedia di ruang tamu. Sekali pandang sudah tampak jelas bedanya, mana rumah pemerintah, mana rumah masyarakat.

Sedangkan lebar jalan perkampungan hanya dua meter. Namun telah dilapisi semen, artinya bisa dilintasi sepeda motor, meski disitu tidak ada motor. Kampung di distrik Kais ini tampak bukan lagi sebuah pedalaman meskipun akses menuju ke sana masih sulit dan menantang.

papua eksotis (1)Menjelang sore hari kami menuju dermaga untuk melanjutkan penjelajahan selanjutnya. Masyarakat Kais mengantar kami sampai di dermaga. Speedboat meninggalkan dermaga disertai lambaian tangan dari anak-anak setempat, kami pun membalas dengan lambaian tangan.

Perjalanan menuju distrik Matemani juga dilalui lewat kanal. Jaraknya kurang lebih sepuluh tanjung. Pukul empat sore kami sampai di distrik Matemani. Kondisinya hampir sama dengan distrik Kais. Dermaganya terbuat dari kayu. Seperti di distrik Kais, di sini anak-anak serta beberapa ibu-ibu juga menyambut kami di dermaga.

Distrik Matemani

papua eksotis (5)Masih di dermaga, anak-anak dan ibu-ibu mempersilahkan kami untuk berfoto bersama sebelum akhirnya kami diantar masuk kampung. Di dekat dermaga berdiri kantor distrik Matemani dengan rumah dinas kepala distrik di sebelahnya. Kami mendapat sambutan dari kepala distrik dengan hangat.

Oleh karena sampai malam kami di sana, kepala distrik mempersilahkan kami untuk menginap di rumah dinasnya. Hanya dengan ijin lisan kami dipersilahkan. Malam hari di distrik Matemani begitu sunyi. Hanya ada suara jangkrik dan sesekali suara anjing menggonggong yang tenggelam ditelan malam. Listrik telah masuk namun hanya sampai tengah malam. Setelah itu keadaan gelap gulita sampai pagi menjelang.

IMAG1608Udara yang sejuk dan tenang menyambut pagi hari. Terlihat beberapa anak tengah bermain di dermaga. Sebagian anak-anak masih mengenakan kemul dan duduk di teras rumah panggung. Ketika saya lewat, ia menatap dengan tajam tanpa senyum. Saya duduk di dermaga, mengajak sebagian mereka untuk foto bareng.

Kampung yang kami singgahi merupakan penghasil sagu. Kami membeli sagu pagi itu juga dari penduduk setempat yang bekerja sebagai penotok sagu. Satuannya per-tumal, dihargai 100 ribu rupiah. Tumal berbentuk segitiga lonjong, panjangnya kira-kira satu meter. Untuk membawa sagu satu tumal dengan cara dinaikkan ke pundak, sehingga ketika dibawa benar-benar mirip seperti membawa bazooka.

Saya berada di dermaga sampai matahari naik sepenggalan. Beberapa anak masih berada di situ. Dikampung itu ada sekolah dasar, ketika saya tanya mengapa tidak sekolah? seorang anak menjawab “libur karena kepala sekolahnya tidak ada”.

papua eksotis (10)Menjelang siang kami berpamitan dengan masyarakat yang sehari sebelumnya menyambut kedatangan kami. Kami berjalan menuju dermaga diantar oleh sebagian masyarakat setempat. Mesin speedboat dinyalakan, anak-anak mulai melambaikan tangan sambil tersenyum.

Kembali pulang

Langkah meninggalkan distrik Matemani terasa berat. Tetapi sebagai rangkaian dari sebuah perjalanan singkat, pulang menjadi keharusan.

papua eksotis (7)Kami kembali ke Teminabuan menggunakan speedboat seperti pada saat kami berangkat. Namun rute yang ditempuh berbeda. Kami tidak lagi melewati kanal dan rawa, melainkan tepian laut. Untuk menuju laut tentu saja kami harus melalui kanal terlebih dahulu, meskipun hanya beberapa tanjung.

Mirip seperti keberangkatan kesini, jalur kanal berkelok-kelok dan airnya coklat. Kami terus menyusuri mengikuti arah menuju muara. Sekitar setengah jam kemudian, kami berhasil menembus rawa. Begitu tiba di muara, kami disambut oleh lautan yang luas. Pemandangan mangrove dan pohon sagu telah diganti lautan luas yang ujungnya tak terbatas, ibarat memasuki sebuah cakrawala yang terbuka.

Di muara, ombak mulai terasa. Speedboat kami mulai sedikit bergoyang layaknya odong-odong yang mulai digenjot. Kami terus menuju arah utara, hanya garis lurus menuju Teminabuan. Rute yang dilalui memang hanya sebuah garis lurus, namun resikonya besar. Apalagi siang hari, air laut surut sehingga gelombang besar sesekali menghantam.

Senja hari, akhirnya kami tiba kembali di Teminabuan, bersiap menyambut malam terakhir di sana sebelum beranjak ke bandara untuk menyudahi perjalanan di tanah Papua. Pada malam harinya, saya sempat berbincang sejenak dengan rekan yang sejak awal menyambut kedatangan kami di Teminabuan. Ia berkata, “orang yang telah minum air Teminabuan, suatu saat akan kembali lagi kesini”. Sebuah pengharapan besar, ingin sekali saya ke Teminabuan lagi.

papua eksotis (11)

Distrik Kais dan Matemani di tanah Papua merupakan tempat paling eksotik yang pernah saya kunjungi. Tentu saja Anda tidak akan menemukannya di daftar ‘tempat yang harus dikunjungi’ yang sengaja dibuat perusahaan travel untuk para turis. Perjalanan ini tidak diakomodasi oleh industri turis manapun. Perjalanan ini adalah sebuah penjelajahan ‘di ujung sana’.

Yogyakarta, 19 November 2013