Derrida Ketemu Malaikat

derrida ketemu malaikatDi tengah kabut malam, seorang laki-laki bernama Derrida berjalan sendirian melintasi jembatan kumuh di pinggiran kota. Mengenakan jas hitam panjang sambil menghisap cerutu, ia coba menenangkan apa yang bergejolak di pikirannya. Selama 50 tahun hidup sebagai seorang pemikir, misteri kehidupan sejati belum bisa dipecahkannya. Semua rangkaian peristiwa baginya adalah teka-teki. Pikiran itu yang belakangan ini selalu menghantuinya hampir di setiap malam. Sampai akhirnya, ia terhenti di depan mulut goa di atas bukit kecil yang tertutup sarang laba-laba. Ia masuk menerobos sarang laba-laba itu lalu duduk menatap kehampaan dengan seribu pertanyaan bergentayangan di kepalanya.

Tak lama kemudian, sesosok bayangan seukuran dirinya yang ia duga malaikat datang menghampirinya. Bentuk wajahnya tak bisa dilihat kecuali hanya bayangan hitam yang menyatu dengan kegelapan. Tiba-tiba dari sosok itu keluar suara yang membuatnya tercengang. Namun Derrida tidak ketakutan karena ia percaya itu adalah malaikat yang akan memberinya pencerahan. Suaranya terus bergema, seperti rangkaian kata yang tak akan berhenti. Diantara kalimat-kalimat yang terangkai, ia menangkap sebuah jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang selama ini bergejolak dipikirannya. Bagian dari rangkaian kata yang menjawab sebuah misteri kehidupan. Sebuah jawaban yang akan mengubah hidupnya dan mungkin hidup seluruh umat manusia. Kali ini Derida mengemban tanggung jawab untuk menyampaikannya.

Perlahan suara itu terlantun pelan bak ditelan udara. Sosok bayangan itu lenyap seketika setelah menganggap kata-kata yang disampaikannya sudah bisa dipahami pendengarnya. Namun Derrida tetap berdiam di dalam goa, menanti bayangan itu muncul kembali. Sampai siang hari tiba, sosok bayangan itu tak muncul juga. Pancaran sinar matahari masuk melalui mulut goa. Namun Derrida bersikeras hanya akan meninggalkan goa tersebut jikalau sosok bayangan itu muncul kembali. Ia ingin mendengar kata-katanya lagi untuk kedua kalinya. Ia membutuhkan lebih banyak waktu untuk menafsirnya. Ketika malam tiba, sosok itu menampakkan dirinya kembali. Namun ia murka, bahkan bersumpah tidak akan mengucap lagi sepatah katapun pada Derrida. Mendengar hal itu, kepala Derrida kembali dipenuhi pertanyaan: “mengapa demikian?”. Sosok itu pun menjawab: “setiap kata-kata yang kusampaikan, tak pernah selesai engkau tafsir