Daftar Pustaka Website: Contoh Lengkap

Daftar pustaka website perlu ditulis sesuai kaidah agar kita tidak mengalami problem teknis penulisan. Dalam menulis hasil atau laporan penelitian, bagian teknis sering kali diremehkan, padahal masalah ini harusnya sudah selesai sehingga penulis bisa fokus pada substansi.

Daftar pustaka website yang dipaparkan di sini dijelaskan melalui contoh. Rujukan website atau laman online yang dimaksud tentu saja tidak terbatas pada portal berita online, tetapi bisa dari Youtube atau media sosial seperti Twitter, misalnya.

Bagaimana membuat daftar pustaka website dari beragam platform online? Untuk tujuan itu, kita langsung saja melihat contohnya. Contoh di bawah ini sudah pernah dimuat di laporan penelitian. Kita gunakan sebagai contoh saja agar pembaca mudah memahami.

Contoh daftar pustaka website

Istman (ed). 2020, 28 Februari. WHO: Salah Fatal Jika Beranggapan Tak Akan Terken Virus Corona. [Online] https://dunia.tempo.co/read/1313276/who-salah-fatal-jika-beranggapan-tak-akan-terkena-virus-corona diakses 17 April 2020

Jakarta Post. 2020, 12 Februari. ‘It’s insulting: Indonesia criticizes US Study concerns over no coronavirus cases. [Online] https://www.thejakartapost.com/news/2020/02/12/its-insulting-indonesia-criticizes-us-study-concerns-over-no-coronavirus-cases.html diakses 17 April 2020

Dua contoh diatas adalah rujukan dari website berupa portal berita. Berita yang pertama tertera jelas nama editornya. Porta berita yang dirujuk adalah laman Tempo. Jika tertera nama penulis, maka nama penulisnya yang ditulis, bukan nama editornya.

Tetapi beberapa kolom atau rubrik portal berita online tidak mencantumkan nama penulis, malainkan nama editornya. Untuk itu perlu mencatat nama editornya, diikuti tanda dalam kurung ed (ed). Ed artinya editor.

Bagaimana jika nama penulis dan editornya tidak ada? Hal ini juga lumrah di bebrapa portal berita online. Seperti contoh yang kedua misalnya.

Maka, kamu cukup menulis media yang mempublikasikannya. Bisa jadi artikel tersebut merupakan reportase yang ditulis atas nama media yang menerbitkan.

Contoh Daftar Pustaka

Kompas TV. 2020, 28 Januari. Virus Corona, Bentuk Senjata Biologis Tiongkok Untuk Perang? [Online] https://www.youtube.com/watch?v=ufUjCACw3sI diakses 12 April 2020

Metro TV. 2020, 11 Maret. Ayo Berwisata Jangan Takut Virus Corona. [Online]  https://www.dailymotion.com/video/x7smpha diakses 12 April 2020

Kedua contoh di atas adalah daftar pustaka yang merujuk pada video Youtube dan Dailymotion. Keduanya bisa dikutip sebagai sebuah pemberitaan.

Teknik penulisannya seperti yang ditunjukkan oleh contoh tersebut, yaitu dimulai dari nama media yang mempublikasi atau menerbitkan berita. Diikuti dengan tahun, lalu tanggal publikasi.

Judul video ditulis selanjutnya, diikuti oleh link aktif saat diakses dan tanggal akses video. Ingat kembali bahwa ada dua tanggal yang ditulis dalam format daftar pustaka website.

Pertama, tanggal publikasi konten. Kedua, tanggal yang menunjukkan kapan konten tersebut diakses oleh peneliti. Hati-hati pula terhadap penulisan tanda baca. Dimana kita harus menggunakan koma (,) dan dimana kita harus menggunakan titik (.) perlu diperhatikan.

Cara Membuat Daftar Pustaka dari Internet

Selanjutnya, kita menulis daftar pustaka website dari cuitan di Twitter. Seperti ini contohnya:

Raskin, A. (2016) Reality is what people collectively believe. Dalam @Aza. https://twitter.com/aza/status/798019865856512000?ref_src=twsrc%5Etfw diakses pada 18 Agustus 2018

Contoh diatas adalah Tweet yang dijadikan rujukan dalam penulisan laporan atau hasil penelitian. Tweet di atas menunjukkan opini yang disampaikan secara singkat tentang apa itu reality. Tentu saja, Tweet tersebut diproduksi oleh aktor yang tidak dipilih secara random.

Peneliti yang mengutip status Facebook atau Tweet seseorang perlu memperhatikan akun yang akan dikutip. Tidak perlu kita secara random mengutip definisi konsep di media sosial, karena akan berhadapan dengan validitas data.

Jika diperhatikan beberapa contoh cara menulis dafar pustakan website di atas, kita dapati bahwa saat ini konten online menjadi perpanjangan dari rujukan akademik yang potensial. Problem validitas tentu saja ada.

Misalnya, website mana yang kredibel untuk dikutip. Kita harus bisa membedakan portal berita online dengan blogspot yang gratisan. Pengetahuan itu juga perlu ditingkatkan selain pengetahuan teknis penulisan.